P2MKP Kabupaten Bogor Siap Cetak 1.700 SDM Perikanan

Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP) Kabupaten Bogor, Jawa Barat, menargetkan pelatihan bagi 1.700 sumber daya manusia (SDM) di bidang perikanan konsumsi dan ikan hias pada 2015. Target tersebut diarahkan untuk meningkatkan keterampilan masyarakat sekaligus mendukung pengembangan sektor perikanan air tawar. Program ini menempatkan pelatihan sebagai upaya penting untuk memperbaiki mutu SDM, mengembangkan potensi sumber daya alam, dan membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.

P2MKP di Kabupaten Bogor telah berjalan sejak 2011 sebagai bentuk perhatian terhadap peningkatan kemampuan masyarakat dalam bidang perikanan. Pada tahun pertama, lembaga ini melatih 800 peserta. Jumlah peserta kemudian meningkat menjadi 1.200 orang pada 2012, 1.350 orang pada 2013, dan 1.520 orang pada 2014. Untuk 2015, target pelatihan ditetapkan sebanyak 1.700 peserta. Perkembangan tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan pembelajaran keterampilan perikanan dan pentingnya pelatihan yang berkelanjutan.

Pelajari Lebih Lanjut : Pelatihan P2MKP melalui Teknologi Pelet Pakan Ikan

Pelatihan untuk Meningkatkan Keterampilan

Materi P2MKP tidak hanya berfokus pada pengetahuan teknis, tetapi juga pembentukan sikap dalam mengelola usaha SDM perikanan. Peserta mendapatkan pembelajaran tentang pembenihan ikan, terutama cara menghasilkan benih berkualitas yang diminati pasar. Benih unggul diharapkan dapat memperkuat potensi perikanan air tawar Kabupaten Bogor dan meningkatkan daya saing hasil budidaya. Jenis ikan yang menjadi sasaran pengembangan mencakup lele, nila, bawal, gurame, koi, cupang, serta ikan air tawar lainnya.

Selain pembenihan, peserta juga diperkenalkan pada pengolahan ikan menjadi produk makanan.

Pelatihan ini membuka wawasan bahwa nilai ekonomi ikan tidak hanya berasal dari penjualan ikan segar atau benih, tetapi juga dari produk olahan yang memiliki nilai tambah. Contoh produk yang dikembangkan meliputi cokelat ikan, dendeng ikan, kerupuk tulang ikan, dan abon ikan. Pengembangan makanan olahan dengan ciri khas tradisional Kabupaten Bogor diharapkan dapat menghasilkan produk unggulan yang mampu menjangkau pasar lebih luas.

Pendampingan dan Pemasaran Hasil Perikanan

P2MKP juga menaruh perhatian pada pemasaran hasil pelatihan. Peserta yang telah memiliki keterampilan tidak hanya diarahkan untuk memproduksi benih atau mengolah ikan, tetapi juga mempelajari cara menawarkan hasilnya kepada masyarakat. Pengetahuan pemasaran penting agar keterampilan yang diperoleh dapat mendukung usaha secara berkelanjutan.

Produk olahan ikan yang dikembangkan diharapkan dapat dipasarkan pada tingkat nasional hingga internasional, meskipun pencapaian pasar tersebut tetap membutuhkan pengembangan mutu, kemasan, dan strategi pemasaran.

Materi tersebut juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan pelatihan P2MKP untuk mendorong peserta merencanakan usaha, menghitung kebutuhan produksi, menjaga kualitas hasil, dan menilai peluang pasar berdasarkan kondisi setempat secara bertahap bersama kelompok.

Berdasarkan evaluasi yang disampaikan dalam laporan, pendidikan dan pelatihan P2MKP dinilai memberikan hasil sekitar 60 persen setiap tahun. Hasil tersebut dipandang sebagai kontribusi terhadap peningkatan mutu SDM perikanan dan perekonomian masyarakat. Namun, target keberhasilan yang lebih tinggi masih memerlukan dukungan dan upaya lanjutan agar peserta dapat menerapkan keterampilan secara optimal dalam kegiatan usaha.

Akses Pelatihan dan Dukungan Pendanaan

Masyarakat yang ingin belajar pembenihan dan pengolahan ikan dapat menghubungi P2MKP Kabupaten Bogor. Pelatihan tertentu disebut dapat diikuti tanpa pungutan biaya, sementara pelatihan yang lebih intensif dapat memerlukan biaya administrasi. Bagi peserta yang memiliki potensi mengembangkan usaha tetapi mengalami keterbatasan biaya, tersedia pilihan untuk mengajukan permohonan bantuan agar dapat mengikuti pelatihan secara gratis dan intensif.

Pada saat laporan tersebut diterbitkan, pendanaan pelatihan bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta peserta. Dukungan tambahan dari pemerintah daerah diharapkan dapat memperluas kesempatan belajar dan meningkatkan keberhasilan peserta. Ketersediaan dana menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi jangkauan program, intensitas pendampingan, dan kesinambungan pelatihan.

P2MKP Kabupaten Bogor berupaya meningkatkan kualitas SDM perikanan melalui pelatihan pembenihan, pengolahan produk, dan pemasaran. Target 1.700 peserta pada 2015 mencerminkan upaya memperluas keterampilan masyarakat dalam perikanan konsumsi dan ikan hias. Pengembangan benih lele, nila, bawal, gurame, koi, dan cupang, serta produk olahan seperti abon dan kerupuk tulang ikan, membuka peluang untuk meningkatkan nilai tambah hasil perikanan. Dengan pelatihan yang berkelanjutan dan dukungan pendanaan yang memadai, P2MKP diharapkan dapat membantu masyarakat mengembangkan usaha perikanan yang lebih terampil, mandiri, dan berdaya saing.

 

P2MKP Peluang Bisnis Kelautan dan Perikanan

 

Indonesia memiliki potensi kelautan dan perikanan yang besar. Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki sumber daya laut dan perairan yang dapat dikembangkan untuk mendukung kesejahteraan masyarakat. Potensi tersebut membuka peluang usaha dalam bidang perikanan tangkap, budidaya ikan, pengolahan hasil perikanan, hingga jasa pendukung. Agar peluang ini dapat dimanfaatkan secara optimal, masyarakat membutuhkan keterampilan, pengetahuan usaha, dan akses pelatihan yang sesuai kebutuhan.

Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP) menjadi salah satu wadah untuk meningkatkan kemampuan masyarakat. Melalui pelatihan berbasis praktik, peserta dapat belajar langsung bersama pelaku utama dan pelaku usaha di tempat kegiatan berlangsung. Pendekatan ini membantu peserta memahami proses produksi, mengenali kebutuhan pasar, dan mempelajari peluang bisnis sektor kelautan dan perikanan.

Baca juga : P2MKP Kabupaten Bogor Siap Cetak 1.700 SDM Perikanan

P2MKP Mendorong Wirausaha Perikanan

Peluang bisnis diadakan pada 6–7 November 2012, Badan Pengembangan SDM Kelautan dan Perikanan menyelenggarakan Gelar Pelatihan Nasional Kelautan dan Perikanan di Jakarta. Kegiatan ini mendukung peningkatan keterampilan angkatan kerja dan penciptaan lapangan kerja melalui pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta kewirausahaan.

P2MKP menjadi bagian penting dalam upaya tersebut melalui kerja sama pemerintah dengan pelaku usaha dan industri. Masyarakat dapat mempelajari berbagai bidang, mulai dari perikanan tangkap, budidaya, pengolahan hasil perikanan, hingga usaha pendukung. Pelatihan ini diharapkan membantu peserta memperoleh keterampilan praktis untuk merintis usaha dan mengembangkan sumber penghasilan.

Ragam Pelatihan dan Peluang Usaha

Pada kegiatan tahun 2012, P2MKP berperan dalam penyelenggaraan 30 jenis pelatihan dengan kapasitas sekitar 4.000 peserta. Materinya mencakup pengolahan produk kelautan dan perikanan, budidaya ikan, kerajinan, mesin sarana produksi pakan, refrigerasi, pemanduan wisata, serta penyelaman.

Ragam pelatihan tersebut menunjukkan bahwa peluang bisnis perikanan tidak terbatas pada menangkap atau membudidayakan ikan. Pengolahan hasil perikanan dapat meningkatkan nilai tambah produk, sedangkan pelatihan teknologi membantu peserta mengenal peralatan pendukung produksi. Bidang wisata dan penyelaman juga menunjukkan adanya peluang usaha jasa yang berkaitan dengan potensi kelautan.

Peserta dapat mempertimbangkan bidang usaha berdasarkan keterampilan, ketersediaan bahan baku, potensi daerah, dan kebutuhan pasar. Dengan perencanaan yang baik, keterampilan dari pelatihan dapat menjadi bekal untuk memulai usaha secara bertahap.

Kolaborasi untuk Meningkatkan Keterampilan

Pengembangan P2MKP membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, lembaga pelatihan, masyarakat, dan dunia usaha. Kerja sama tersebut membantu memperluas jangkauan pelatihan sekaligus menghubungkan keterampilan peserta dengan kebutuhan usaha. Kegiatan nasional juga menjadi tempat untuk menampilkan produk hasil pelatihan, menyebarkan informasi, dan bertukar pengalaman antara pelaku usaha dengan calon wirausahawan.

Data dalam laporan kegiatan menyebutkan jumlah peserta pelatihan meningkat dari sekitar 2.000 orang pada 2008 menjadi 12.000 orang pada 2012. Melalui kerja sama dan percepatan pelatihan dengan P2MKP, jumlah tersebut disebut mencapai 24.000 orang. Angka ini menggambarkan perkembangan pada periode yang dilaporkan, bukan jumlah peserta saat ini.

Akses Pelatihan dan Pengembangan Usaha

Gelar Pelatihan Nasional Kelautan dan Perikanan tahun 2012 diinformasikan terbuka bagi masyarakat umum dan tidak dipungut biaya. Kegiatan tersebut juga menampilkan pameran produk dari 50 P2MKP dengan lebih dari 100 jenis produk. Selain pameran, terdapat penyampaian informasi pelatihan, koordinasi nasional, dan temu bisnis yang mempertemukan masyarakat dengan pelaku usaha.

Melalui P2MKP, masyarakat berkesempatan memperoleh pengalaman praktik sekaligus mengenali kemungkinan mengembangkan usaha. Meski demikian, keberhasilan bisnis tetap membutuhkan perencanaan, pengelolaan biaya, pengendalian mutu, dan pemahaman pasar. Peserta perlu menilai kebutuhan konsumen serta kemampuan produksinya sebelum menentukan jenis usaha yang akan dijalankan.

P2MKP membuka peluang bagi masyarakat untuk meningkatkan keterampilan dan merintis bisnis sektor kelautan dan perikanan. Pelatihan budidaya, pengolahan hasil, teknologi, kerajinan, dan jasa memberikan beragam pilihan usaha sesuai potensi daerah. Dengan dukungan kemitraan antara pemerintah, lembaga pelatihan, dan dunia usaha, P2MKP dapat berkontribusi pada peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan penciptaan wirausahawan baru. Pelatihan berkelanjutan serta penerapan keterampilan sesuai kebutuhan pasar menjadi langkah penting untuk membangun usaha perikanan yang produktif dan mendukung kesejahteraan masyarakat. Terutama dalam peningkatan keterampilan dan kapasitas angkatan kerja, Melalui pelatihan yang diadakan sehingga menciptakan wawasan baru

P2MKP untuk Pengembangan SDM Kelautan dan Perikanan

 

Pengembangan sumber daya manusia (SDM) menjadi bagian penting dalam mendorong kemajuan sektor kelautan dan perikanan. Pada 5–7 Maret 2013, Badan Pengembangan SDM Kelautan dan Perikanan (BPSDM KP) menyelenggarakan Rapat Kerja Teknis (Rakernis) di Bandung untuk menindaklanjuti hasil Rapat Koordinasi Nasional Kementerian Kelautan dan Perikanan. Pertemuan tersebut membahas arah pelaksanaan program pengembangan SDM pada 2013 serta penyusunan rencana kebijakan untuk 2014. Salah satu perhatian pentingnya adalah memperluas pelatihan masyarakat melalui Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP).

Rakernis mengangkat tema sumber daya manusia kompeten untuk mendukung pembangunan kelautan dan perikanan dengan pendekatan ekonomi biru. Kegiatan ini dihadiri 162 peserta dari berbagai unsur, termasuk unit pelaksana teknis, lembaga perencanaan, penyuluh, dan Forum Komunikasi Nasional P2MKP. Pertemuan tersebut menjadi wadah untuk menyelaraskan rencana pendidikan, pelatihan, dan penyuluhan agar kebutuhan masyarakat perikanan dapat ditangani secara lebih terarah.

Pahami Selanjutnya : P2MKP Peluang Bisnis Kelautan dan Perikanan

Peran P2MKP dalam Pelatihan Masyarakat

P2MKP menjadi salah satu jalur untuk memperluas pengembangan SDM dengan jangkauan pelatihan bagi pelaku utama dan pelaku usaha kelautan serta perikanan. Melalui lembaga pelatihan mandiri, keterampilan dapat dikembangkan lebih dekat dengan masyarakat dan kegiatan usaha yang mereka jalankan. Penguatan P2MKP juga diarahkan untuk mendorong tumbuhnya kelompok usaha mandiri yang memiliki kemampuan dan kesiapan menyelenggarakan pelatihan.

Dalam rencana pengembangan SDM pada 2013, perluasan pelatihan masyarakat melalui P2MKP menjadi salah satu arah kebijakan. Upaya ini berjalan bersama penguatan pendidikan vokasi berbasis teaching factory, peningkatan jejaring pendidikan menuju pusat keunggulan, serta pengembangan sarana dan prasarana pelatihan. Kapasitas tenaga pelatih juga perlu ditingkatkan agar pembelajaran yang diberikan sesuai kebutuhan lapangan dan mampu membangun keterampilan yang dapat diterapkan.

Tantangan Pengembangan SDM Perikanan

Pertemuan tersebut mengidentifikasi sejumlah tantangan. Tingkat pendidikan dan keterampilan pelaku utama maupun pelaku usaha masih perlu ditingkatkan. Sistem pendataan sektor kelautan dan perikanan di tingkat pusat dan daerah juga memerlukan pembenahan. Selain itu, akses permodalan terbatas, sarana dan prasarana pendidikan serta pelatihan belum optimal, dan dukungan pembiayaan pemerintah menghadapi keterbatasan.

Laporan yang disampaikan dalam kegiatan itu juga mencatat adanya 2,17 juta rumah tangga miskin di wilayah pesisir, dengan 17,08 persen di antaranya menggantungkan mata pencaharian pada sektor perikanan. Kondisi tersebut memperlihatkan pentingnya pelatihan yang tidak hanya menyampaikan teori, tetapi juga membantu masyarakat mengembangkan keterampilan usaha, mengenali peluang kerja, dan meningkatkan kemandirian ekonomi.

Sinergi Pemerintah dan Kelompok Usaha

Pengembangan SDM membutuhkan kerja sama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga pendidikan, penyuluh, dan kelompok masyarakat. Dinas yang menangani kelautan dan perikanan didorong memetakan kebutuhan tenaga kerja di wilayah masing-masing serta bekerja sama dengan instansi pendidikan untuk memperkuat pendidikan perikanan. Koordinasi dengan lembaga penyuluhan juga diarahkan untuk menumbuhkan kelompok usaha mandiri yang berpotensi berkembang menjadi P2MKP.

Selain pelatihan, agenda pengembangan SDM mencakup pemetaan penyerapan lulusan, penyelenggaraan sekolah lapang, dukungan terhadap kawasan minapolitan dan industrialisasi perikanan, serta perencanaan pembiayaan pendidikan non-subsidi. Rencana model bisnis konektivitas antara P2MKP dan pendekatan ekonomi biru turut dibahas sebagai upaya menghubungkan kegiatan pelatihan dengan kebutuhan pembangunan sektor.

Arah Pengembangan P2MKP dalam SDM

Hasil Rakernis diharapkan memperkuat arah kebijakan pengembangan SDM kelautan dan perikanan pada 2013 serta menyiapkan rumusan untuk 2014. Tujuannya meliputi peningkatan kompetensi tenaga kerja, perluasan kesempatan kerja, penguatan kelompok usaha, serta peningkatan sinergi pembangunan pusat dan daerah. Pemetaan sasaran dan dampak program juga diperlukan agar hasil pendidikan, pelatihan, dan penyuluhan dapat dievaluasi dengan lebih jelas.

Dengan memperluas peran P2MKP dan memperkuat kemitraan, pelatihan dapat menjangkau lebih banyak masyarakat serta mendukung tumbuhnya usaha perikanan yang mandiri. Pelaksanaan program tetap memerlukan dukungan pendanaan, tenaga pelatih, fasilitas yang memadai, dan koordinasi lintas lembaga. Langkah-langkah tersebut menjadi bagian dari upaya membangun SDM kelautan dan perikanan yang kompeten serta mendukung pembangunan berbasis ekonomi biru. Bagi P2MKP, arah kebijakan ini menegaskan pentingnya pelatihan berbasis kebutuhan lokal, pendampingan berkelanjutan, dan keterkaitan antara keterampilan peserta dengan peluang usaha di daerah setempat.

P2MKP Budidaya Ikan Lele untuk Penguatan POKDAKAN

 

Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP) menetapkan ikan lele sebagai salah satu komoditas budidaya unggul di indonesia yang dapat menjadi ruang penguatan kapasitas masyarakat melalui pembelajaran yang dekat dengan kebutuhan usaha perikanan. Bidang yang sesuai ialah budidaya ikan lele, karena kegiatan ini berpotensi mendukung ketahanan pangan sekaligus meningkatkan ekonomi masyarakat. Pembudidaya juga perlu memahami pengelolaan pakan, kualitas air, kepadatan tebar, kesehatan ikan, serta pengelolaan usaha dan pemasaran. Karena itu, penguatan kelompok pembudidaya perlu dilakukan melalui pelatihan dan pendampingan yang terarah secara berkala.

Baca Selanjutnya : P2MKP untuk Pengembangan SDM Kelautan dan Perikanan

Pelaksanaan Sosialisasi dan Pendampingan

Penguatan kapasitas ini berfokus pada budidaya lele dengan memadukan pendekatan partisipatoris dan Metode M6. Pendekatan partisipatoris menempatkan pembudidaya sebagai pihak yang aktif mengenali masalah, menyampaikan pengalaman, serta terlibat dalam pengambilan keputusan. Sementara itu, Metode M6 digunakan sebagai panduan teknis yang sistematis dalam proses pendampingan. Kombinasi keduanya dapat menjadi materi pembelajaran dalam kegiatan P2MKP, khususnya untuk membantu peserta menghubungkan pengetahuan teknis dengan kondisi budidaya yang mereka hadapi sehari-hari.

Kegiatan diawali dengan sosialisasi, kemudian dilanjutkan dengan pendampingan dan monitoring selama delapan minggu. Peserta kegiatan terdiri atas 10 orang pembudidaya lele di Nagari Singguling, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. Proses ini memberikan kesempatan untuk mengamati perkembangan kegiatan budidaya sekaligus mengenali kendala yang muncul selama pemeliharaan. Dalam pendekatan partisipatoris, pengalaman pembudidaya menjadi bagian penting dari pembahasan sehingga langkah perbaikan dapat disesuaikan dengan kondisi lapangan.

Permasalahan yang menjadi perhatian meliputi produktivitas yang belum optimal, tingkat kematian ikan tinggi, keterbatasan akses pasar, dan pengelolaan lingkungan. Kendala tersebut saling berkaitan. Penyesuaian pakan yang kurang tepat dapat memengaruhi pertumbuhan, sedangkan perubahan kualitas air dan kepadatan tebar dapat memengaruhi kelangsungan hidup ikan. Di sisi lain, hasil budidaya yang baik tetap perlu didukung kemampuan mengelola usaha dan menjangkau pasar. Oleh sebab itu, pendampingan perlu membahas aspek teknis dan manajerial bersama-sama.

Hasil Monitoring Budidaya Lele

Hasil monitoring selama delapan minggu menunjukkan tingkat kelangsungan hidup atau survival rate ikan lele berada pada kisaran 57,1% hingga 74,2%, dengan rata-rata 65,11%. Data tersebut memperlihatkan bahwa kelangsungan hidup ikan masih menjadi aspek yang perlu diperhatikan. Faktor yang memengaruhi hasil antara lain penyesuaian pakan, fluktuasi kualitas air, dan kepadatan tebar. Informasi ini dapat digunakan sebagai bahan evaluasi bersama untuk mengenali tahap pemeliharaan yang memerlukan perhatian lebih besar.

Dalam kegiatan pelatihan P2MKP, data monitoring dapat dimanfaatkan untuk membangun kebiasaan pencatatan dan evaluasi. Pembudidaya dapat mendiskusikan perubahan kondisi air, pemberian pakan, serta jumlah ikan yang bertahan selama pemeliharaan. Meski demikian, angka kelangsungan hidup yang diperoleh dari kegiatan ini tidak berarti semua persoalan telah teratasi. Hasilnya justru menunjukkan perlunya pemantauan berkelanjutan dan penyesuaian praktik budidaya sesuai kondisi kolam.

Penguatan Kapasitas melalui P2MKP

Pendekatan partisipatoris mendorong keterlibatan aktif pembudidaya dalam proses mengenali masalah dan menentukan langkah perbaikan. Metode M6 melengkapi proses tersebut melalui panduan teknis yang sistematis. Perpaduan keduanya dilaporkan membantu meningkatkan literasi teknis, menumbuhkan tanggung jawab kolektif, serta memperkuat perhatian terhadap keberlanjutan budidaya. Bagi P2MKP, pendekatan ini dapat menjadi contoh pembelajaran berbasis masalah nyata, dengan kelompok sebagai bagian penting dalam proses berbagi pengalaman dan mengevaluasi praktik usaha.

Penguatan kapasitas sebaiknya tidak berhenti setelah pendampingan selesai. Kelompok dapat melanjutkan pencatatan, berdiskusi secara berkala, dan menyusun langkah tindak lanjut berdasarkan kendala yang ditemukan. Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya berorientasi pada hasil panen, tetapi juga pada kemampuan kelompok mengambil keputusan kelompok.

Penguatan kapasitas POKDAKAN melalui pendekatan partisipatoris dan Metode M6 berpotensi mendukung pengembangan budidaya lele yang lebih terarah. Monitoring terhadap 10 pembudidaya selama delapan minggu mencatat rata-rata tingkat kelangsungan hidup sebesar 65,11%, sekaligus menegaskan pentingnya pengelolaan pakan, kualitas air, dan kepadatan tebar. Jika dikembangkan dalam kegiatan P2MKP, pembelajaran partisipatif dan pendampingan berkelanjutan dapat membantu meningkatkan keterampilan, kemandirian, serta tanggung jawab kolektif pembudidaya. Upaya ini perlu disertai evaluasi rutin agar perbaikan teknis, pengelolaan usaha, dan kepedulian lingkungan dapat terus dikembangkan.

Pelatihan P2MKP melalui Teknologi Pelet Pakan Ikan

 

 

Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP) berperan dalam meningkatkan keterampilan masyarakat melalui pelatihan yang mendukung usaha kelautan dan perikanan. Salah satu materi yang relevan untuk dikembangkan dalam kegiatan pelatihan adalah pembuatan pakan ikan secara mandiri. Ketersediaan pakan menjadi faktor penting dalam budidaya, tetapi harga pakan komersial dapat membebani pembudidaya, terutama usaha skala kecil dan menengah. Karena itu, pengenalan teknologi pembuat pelet dapat menjadi bahan pembelajaran untuk mendorong efisiensi usaha dan kemandirian produksi.

Pakan merupakan salah satu komponen biaya terbesar dalam kegiatan budidaya ikan. Ketika pembudidaya hanya bergantung pada pakan komersial, perubahan harga dapat memengaruhi biaya operasional. Melalui pelatihan yang sesuai, peserta P2MKP dapat mempelajari prinsip penyusunan pakan, proses pencetakan menjadi pelet, serta hal-hal yang perlu diperhatikan agar produk sesuai kebutuhan ikan. Penggunaan mesin pembuat pelet menjadi salah satu topik praktik yang dapat dikenalkan, dengan tetap memperhatikan keamanan kerja dan mutu pakan.

Baca Selengkapnya : P2MKP Budidaya Ikan Lele untuk Penguatan POKDAKAN

Rancangan Mesin Pembuat Pelet

Pelatihan P2MKP teknologi pelet yang dibahas dalam penelitian dirancang sebagai alternatif untuk mendukung produksi pakan mandiri. Mesin menggunakan motor bensin empat langkah berkapasitas 196 cc dengan putaran motor hingga 3.600 rpm. Komponen utamanya meliputi sistem screw extruder, roda penggerak, transmisi v-belt, dan cetakan atau die. Prototipe memiliki ukuran sekitar 60 × 40 × 70 cm, diameter lubang die 3 mm, serta tabung penggiling sepanjang 23 cm dengan diameter 7 cm. Sistem berbahan bakar bensin dapat menjadi bahan diskusi pelatihan, terutama untuk lokasi yang membutuhkan pilihan penggerak selain listrik.

Dalam konteks P2MKP, informasi teknis tersebut dapat digunakan sebagai bahan pengenalan teknologi tepat guna. Peserta dapat mempelajari fungsi setiap komponen, tahapan pengoperasian, cara memeriksa kestabilan mesin, dan pentingnya perawatan berkala. Praktik penggunaan mesin perlu didampingi instruktur dan mengikuti prosedur keselamatan. Pelatihan juga dapat membahas pemilihan bahan baku, pencampuran adonan, serta pengamatan bentuk pelet yang dihasilkan. Namun, materi ini tidak menggantikan pengujian mutu nutrisi dan kualitas pakan sesuai kebutuhan spesies ikan.

Hasil Pengujian dan Materi Pelatihan

Pengujian prototipe dilakukan sebanyak lima kali dengan bahan baku 10 kg pada setiap percobaan. Hasil pengujian menunjukkan massa pelet yang terkumpul berkisar antara 8,86 hingga 9,66 kg. Rata-rata hasil produksi mencapai 9,38 kg dengan waktu proses sekitar 0,190 jam, sedangkan kapasitas produksi rata-rata tercatat 49,49 kg per jam. Daya maksimum mesin mencapai 3,46 kW, dengan putaran keluaran minimum 200 rpm dan maksimum 720 rpm. Angka tersebut dapat menjadi bahan pembelajaran untuk memahami hubungan antara kapasitas, waktu produksi, dan kinerja mesin.

Meski hasilnya menjanjikan, mesin masih memerlukan penyempurnaan. Pengunci roda atau penyangga perlu ditambahkan agar mesin lebih stabil ketika digunakan. Penggunaan bahan bakar dan jadwal pemeliharaan juga perlu dikaji lebih lanjut. Dalam kegiatan P2MKP, aspek ini dapat dijadikan contoh bahwa penerapan teknologi tidak berhenti pada pengoperasian alat, tetapi juga mencakup evaluasi, pencatatan hasil, dan perbaikan berkelanjutan.

Rangkaian pelatihan dapat dimulai dari identifikasi masalah

Pakan yang dihadapi peserta dilanjutkan pengenalan komponen mesin, demonstrasi, praktik terbimbing, dan evaluasi hasil. Peserta dapat mencatat jumlah bahan yang dimasukkan, berat pelet yang keluar, lama proses, serta kebutuhan bahan bakar. Catatan sederhana ini membantu kelompok membandingkan biaya produksi dengan pembelian pakan jadi. Perhitungan tersebut tetap perlu memasukkan biaya bahan baku, tenaga kerja, perawatan, dan penyusutan alat agar keputusan usaha didasarkan pada data, bukan hanya kapasitas produksi. Hasil evaluasi kemudian dapat dibahas bersama untuk menentukan perbaikan dan kelayakan penerapan pada skala kelompok secara bertahap.

Melalui pendekatan pelatihan, teknologi pembuat pelet dapat diperkenalkan sebagai salah satu pilihan untuk memperkuat keterampilan pembudidaya. Peserta perlu memahami bahwa kapasitas mesin bukan satu-satunya ukuran keberhasilan; biaya operasional, keamanan, kualitas pakan, dan kemudahan perawatan juga penting. Penerapan di lapangan sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan kelompok, ketersediaan bahan baku, serta kemampuan pengelolaan usaha. Dengan demikian, materi rekayasa mesin pelet dapat mendukung tujuan P2MKP dalam mengembangkan kompetensi masyarakat perikanan, sekaligus membuka peluang produksi pakan mandiri yang lebih efisien.

P2MKP Pengembangan Budidaya Rumput Laut Tablolong

Desa Tablolong merupakan kawasan potensial produsen rumput laut di Kabupaten Kupang. Pemerintah pusat melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan merencanakan pembangunan kampung rumput laut dengan teknologi ramah lingkungan. Upaya ini ditujukan untuk mendukung kesejahteraan masyarakat pesisir secara berkesinambungan.

Di Desa Tablolong terdapat Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP) Rumput Laut Mandiri. Lembaga pelatihan yang dikelola individu atau kelompok ini menjalankan usaha kelautan dan perikanan serta menjadi tempat belajar. P2MKP Rumput Laut Mandiri membantu kelompok pembudidaya pemula melalui pembinaan dan sosialisasi alih teknologi di lapangan. Ketua P2MKP, Alberto, menyampaikan bahwa rumput laut merupakan sumber penghidupan mayoritas nelayan Tablolong. Karena itu, dukungan pemerintah pusat dan daerah diharapkan dapat menjaga produktivitas rumput laut tetap optimal.

 

Pelajari Lebih Lanjut : P2MKP Gelar Pelatihan Budidaya Ikan Gurame

Kelompok Laut Biru dan Produksi Rumput Laut

Kelompok “Laut Biru” merupakan salah satu kelompok binaan P2MKP  pengembangan Rumput Laut Mandiri. Dalam setahun, kelompok ini menjalankan tiga hingga empat siklus produksi. Kegiatannya meliputi pengikatan bibit, penanaman atau pemasangan tali rawai, pemanenan, dan pengeringan. Produksi kelompok tercatat sekitar 10–20 ton per tahun.

Pengikatan bibit, penjemuran, dan pengepakan dilakukan di rumah salah satu anggota kelompok. Saat panen, tali rawai diangkat ke pinggir pantai. Pengembengan Rumput laut kemudian dilepaskan dari tali dan dijemur di atas para-para. Tahapan budidaya tersebut perlu dilakukan dengan benar sesuai standar operasional prosedur agar hasil rumput laut memiliki kandungan karaginan dan alginat yang optimal.

Pada Agustus 2020, pembudidaya di Desa Tablolong menerima bantuan bibit rumput laut dari Kementerian Kelautan dan Perikanan senilai Rp100.000.000. Bibit tersebut dibagikan kepada kelompok pembudidaya rumput laut di desa. Bantuan ini menjadi dorongan semangat bagi para pembudidaya untuk melanjutkan usaha mereka.

Manfaat Kelompok bagi Masyarakat Pesisir

Keberadaan kelompok pembudidaya turut mendukung pengembangan rumput laut sebagai komoditas andalan di Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang, serta membantu meningkatkan pendapatan daerah. Kelompok juga memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar. Setiap musim produksi, tersedia peluang kerja bagi ibu-ibu untuk membantu persiapan bibit dan penjemuran hasil panen.

Selain itu, kelompok membantu pembudidaya lain dalam pengadaan bibit dan penjualan hasil panen. Peran tersebut memperkuat dukungan antarpembudidaya dalam menjalankan usaha rumput laut.

Strategi Pengembangan Budidaya Rumput Laut

Usaha budidaya rumput laut di Desa Tablolong tampak stabil, tetapi perlu diimbangi pembinaan dan pendampingan yang memadai. Tanpa dukungan tersebut, produktivitas cenderung menurun dari waktu ke waktu. Meskipun telah lama menjadi mata pencaharian utama masyarakat, potensi rumput laut belum dimanfaatkan secara optimal. Produksi basah maupun kering belum mencapai hasil maksimum.

Upaya pengembangan perlu berfokus pada teknologi budidaya dan regulasi pemerintah. Aspek teknologi meliputi pemilihan bibit, metode budidaya, umur panen, serta penanganan pascapanen. Pembudidaya juga perlu memperhatikan daya dukung lokasi, sebab aspek ini belum sepenuhnya dipahami. Penggunaan bibit yang heterogen, baik dari segi bobot maupun asal talus, serta waktu panen yang dilakukan bersamaan menjadi tantangan yang perlu diperhatikan.

Meningkatkan Mutu Pascapanen

Pengetahuan dan keterampilan pembudidaya dalam penanganan pascapanen serta pengolahan produk perlu ditingkatkan. Rumput laut yang dipanen sebelum waktunya dapat memiliki kandungan karaginan yang terpengaruh. Penjemuran yang kurang sempurna juga menurunkan kualitas rumput laut yang dijual dan dapat menyebabkan harga jual menjadi rendah.

Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan mengapa hasil budidaya belum maksimal. Karena itu, pembinaan perlu membantu pembudidaya memahami waktu panen yang tepat, proses pengeringan, dan penanganan hasil sebelum dipasarkan.

Masyarakat di Desa Tablolong banyak menggunakan metode long line (tali panjang) karena alat dan bahannya mudah didapat serta cocok untuk perairan setempat

Pengembangan budidaya rumput laut di Desa Tablolong memiliki peluang besar karena komoditas ini menjadi sumber penghidupan masyarakat pesisir. P2MKP Rumput Laut Mandiri dan kelompok Laut Biru berperan dalam pembinaan, produksi, serta dukungan bagi pembudidaya lainnya. Namun, peningkatan produktivitas membutuhkan pendampingan berkelanjutan, penerapan teknologi budidaya yang tepat, perhatian terhadap daya dukung lokasi, pemilihan bibit, waktu panen, dan penanganan pascapanen. Peningkatan pengetahuan dan keterampilan menjadi kebutuhan penting untuk mendorong kesejahteraan pembudidaya dan keluarganya.

P2MKP Ikan Koi Mina Papilon Temanggung

Kabupaten Temanggung dikenal sebagai salah satu sentra tembakau. Namun, kondisi usaha tembakau beberapa tahun terakhir semakin tidak menentu. Perubahan cuaca yang dikaitkan dengan pemanasan global, ditambah tantangan bisnis akibat fatwa rokok haram dan undang-undang pembatasan kadar nikotin, membuat usaha tembakau dinilai tidak lagi menjanjikan. Padahal, Temanggung memiliki potensi lain yang belum banyak dilirik, yaitu budidaya ikan, termasuk ikan hias.

Pahami Selanjutnya  : P2MKP Pengembangan Budidaya Rumput Laut Tablolong

Potensi Perikanan di Lereng Sumbing dan Sindoro

Sejumlah wilayah Temanggung yang berada di bawah Gunung Sumbing dan Sindoro memiliki sumber daya air yang tersedia sepanjang tahun. Kondisi ini menjadi peluang untuk mengembangkan Ikan Koi di wilayah Temanggung.

Potensi tersebut dapat dibandingkan dengan daerah sekitar Gunung Merapi yang berkembang sebagai sentra perikanan air tawar. Ngrajeg di Muntilan, Kabupaten Magelang, dikenal dengan produksi ikan air tawar. Boyolali memiliki kampung lele, sedangkan Klaten dikenal dengan kampung nila dan produksi nila merah strain Janti atau Larasati. Di bagian selatan Merapi, Yogyakarta juga memiliki sentra perikanan air tawar, termasuk ikan hias dan lobster air tawar. Dengan sumber air dari dua gunung, Temanggung memiliki peluang besar untuk mengembangkan usaha perikanan.

Papilon Mengembangkan Ikan Koi

Salah satu kelompok yang menunjukkan potensi tersebut adalah Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) hias Papilon. Nama Papilon berasal dari singkatan “Parakan Pinggir Kulon”, sesuai lokasi kolam di sebelah barat Parakan Kauman, Kecamatan Parakan. Pada 2011, kelompok ini meraih juara III Lomba Kelembagaan Kelompok Pembudidaya Ikan Hias Tingkat Nasional.

Usaha utama Papilon meliputi budidaya ikan koi, mulai dari pemijahan, pembesaran hingga pemasaran. Kelompok ini juga membudidayakan ikan koki, cupang, dan black molly. Meski menggunakan sarana dan prasarana terbatas serta memanfaatkan sumber daya di sekitar, Papilon mampu menghasilkan ikan berkualitas. Produknya menjuarai sejumlah kontes koi di Yogyakarta dan meraih juara I tingkat Provinsi Jawa Tengah.

Papilon sebagai P2MKP

Kelompok yang dipimpin Untung Sugiharto ini ditetapkan sebagai Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP) ikan hias sejak 2011. Untung tinggal di Sidorejo, Parakan Kauman, dan juga menjabat Wakil Ketua Ikatan Penyuluh Perikanan Indonesia (IPKANI) Temanggung serta Penyuluh Perikanan Swadaya Kabupaten Temanggung.

Untung telah membudidayakan koi sekitar 20 tahun melalui Usagi Koi Farm. Ia meraih juara II varietas Taisho Sansoku ukuran 35 cm dan juara III varietas Showa Sansoku ukuran 35 cm pada Jogja Koi Show 2010. Papilon juga mendapat penghargaan sebagai pelopor budidaya ikan hias di Temanggung, juara I lomba ikan hias tingkat Provinsi Jawa Tengah 2011, juara III Pokdakan ikan hias tingkat nasional 2011, serta penghargaan Adhi Bhakti Bahari 2011 di Pekanbaru.

Pelatihan dan Pengembangan Budidaya

Sebagai P2MKP, Papilon sedang mengurus sertifikasi Cara Pembenihan Ikan yang Baik (CPIB). Kelompok ini juga menerima tali asih dari Gubernur Jawa Tengah setelah memenangkan lomba tingkat nasional. Penghargaan tersebut diserahkan di Gedung Rapat Kantor Gubernur di Semarang pada 22 Desember 2011.

Anggota Papilon kerap menjadi narasumber pelatihan budidaya ikan hias dan nila dalam program PNPM dan PKBM. Mereka mengikuti pelatihan, temu lapang, serta kegiatan apresiasi budidaya ikan hias di Blitar, Bandung, dan Bekasi. Kelompok ini juga mengikuti peningkatan kapasitas pengelola P2MKP di Jakarta pada 2011, 2012, dan 2013, Apresiasi Kelembagaan Pembudidaya Ikan Provinsi Jawa Tengah 2014, serta Pekan Nasional (PENAS) 2014 di Malang.

Papilon masih dibina Taufik Aries, Konsultan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan. Pada 2014, kelompok ini dipilih Balai Penelitian dan Pengembangan Benih Ikan Hias (BPPBIH) Depok sebagai demplot dan lokasi aplikasi vaksin KHV.

Sampai sekarang Kelompok Pembudidaya Ikan Hias “Mina Papilon” masih secara khusus dibina langsung oleh Bp Taufik Aries selaku Konsultan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan
Peningkatan Kapasitas Pengelola P2MKP di Jakarta 2011, 2012 dan 2013. Menjadi Peserta Apresiasi Kelembagaan Pembudidaya Ikan Provinsi Jawa Tengah 2014 dan terakhir menjadi Peserta Pekan Nasional

Keberhasilan Papilon menunjukkan bahwa keterbatasan sarana tidak selalu menghalangi pengembangan budidaya ikan hias. Dengan sumber air yang tersedia sepanjang tahun dan pengalaman kelompok dalam produksi, pelatihan, serta kontes, Temanggung berpeluang mengembangkan perikanan sebagai alternatif usaha masyarakat, baik ikan konsumsi maupun ikan hias.

P2MKP Strategi Peningkatan Perikanan di Pangkalan

 

Peningkatan kinerja pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan di Pangkalan P2MKP memerlukan strategi. Strategi utama tersebut dirumuskan berdasarkan hasil analisis SWOT dan penentuan prioritas menggunakan metode Analytic Hierarchy Process (AHP). Hasil analisis digunakan untuk menentukan langkah strategis guna meningkatkan efektivitas pengawasan dan penegakan hukum.

Pelajari Lebih Lanjut : P2MKP Ikan Koi Mina Papilon Temanggung

Prioritas Strategi Pengawasan Perikanan

Analisis rekomendasi strategi peningkatan kinerja pengawasan di Pangkalan P2MKP Tual didasarkan pada tiga faktor hasil analisis SWOT, yaitu infrastruktur dan sistem pengawasan, sumber daya manusia (SDM), serta kebijakan.

Hasil analisis menunjukkan bahwa SDM memiliki rasio kepentingan tertinggi, yaitu 0,657. Selanjutnya, infrastruktur dan sistem pengawasan memperoleh rasio 0,259, sedangkan kebijakan memiliki rasio 0,084. Hasil tersebut menunjukkan bahwa SDM menjadi faktor yang paling diprioritaskan dalam peningkatan kinerja pengawasan.

Analisis menghasilkan rasio inkonsistensi sebesar 0,09. Nilai tersebut menunjukkan bahwa penilaian berdasarkan pendapat para pakar tergolong konsisten. Menurut Fitria (2013), penilaian perbandingan berpasangan dinilai konsisten apabila indeks konsistensinya kurang dari 0,1. Jika nilainya lebih dari 0,1, matriks perbandingan berpasangan perlu dibuat ulang agar konsistensi penilaian terjaga.

Tingginya rasio kepentingan SDM berkaitan dengan pandangan mayoritas responden yang merupakan pegawai di lingkungan Pangkalan P2MKP. Mereka menilai bahwa pemenuhan kompetensi dan kebutuhan tenaga pengawas merupakan aspek penting dalam meningkatkan kinerja pengawasan.

Strategi Peningkatan Kinerja Pengawasan

1. Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Manusia

Peningkatan kapasitas SDM menjadi prioritas utama dengan bobot 0,571. Strategi ini mencakup pelatihan, pendidikan, dan pengembangan keterampilan personel yang terlibat dalam kegiatan pengawasan.

SDM yang kompeten dan terlatih diharapkan mampu melaksanakan tugas secara efektif dan efisien serta beradaptasi dengan berbagai tantangan di lapangan. Peningkatan kapasitas juga mendukung kualitas pengambilan keputusan, kemampuan analitis, dan respons terhadap situasi pengawasan. Dengan demikian, personel dapat menjalankan tanggung jawabnya secara lebih siap dan terarah.

2. Pengembangan Sistem Pengawasan

Pengembangan sistem pengawasan menempati urutan kedua dengan bobot 0,191. Strategi ini mencakup pembaruan teknologi informasi, prosedur, dan metode yang digunakan dalam proses pengawasan.

Sistem pengawasan yang lebih baik dapat meningkatkan akurasi pendeteksian pelanggaran, pemantauan aktivitas, dan pelaporan. Selain itu, sistem modern dan terintegrasi dapat mendukung transparansi, akuntabilitas, serta pencegahan pelanggaran, termasuk ancaman illegal fishing dan kondisi alam ekstrem. Dukungan sistem yang memadai juga dapat membantu petugas mengolah informasi dengan baik.

3. Penguatan Kerja Sama

Penguatan kerja sama memperoleh bobot 0,123. Strategi ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan, seperti pemerintah daerah, instansi terkait, dan masyarakat lokal.

Kolaborasi diperlukan untuk meningkatkan sinergi dalam pelaksanaan pengawasan, terutama melalui pertukaran informasi, sumber daya, dan keahlian. Kerja sama yang kuat juga membantu mengatasi hambatan dalam proses pengawasan dan meningkatkan efektivitas penegakan hukum. Koordinasi yang baik mendukung pengawasan bersama.

4. Advokasi dan Lobi Kebijakan

Advokasi dan lobi kebijakan memperoleh bobot 0,114. Strategi ini bertujuan memengaruhi kebijakan publik agar mendukung penguatan pengawasan, termasuk melalui regulasi, alokasi anggaran, dan dukungan politik. Upaya tersebut perlu menyampaikan kebutuhan pengawasan secara jelas kepada pihak yang memiliki kewenangan dalam pengambilan keputusan.

Menghasilkan kebijakan yang lebih responsif

Terhadap kebutuhan pengawasan serta menciptakan lingkungan kebijakan yang mendukung pelaksanaan pengawasan secara berkelanjutan. Dukungan kebijakan dapat melengkapi peningkatan kapasitas personel, pembaruan sistem, dan penguatan kolaborasi.

Penelitian menunjukkan bahwa kinerja pengawas sumber daya kelautan dan perikanan di Pangkalan P2MKP masih perlu ditingkatkan, terutama dalam efektivitas pengawasan dan penegakan hukum. SDM menjadi faktor paling signifikan, diikuti infrastruktur dan sistem pengawasan serta kebijakan. Rasio inkonsistensi sebesar 0,09 juga menunjukkan bahwa penilaian pakar memenuhi batas konsistensi yang disebutkan.

Berdasarkan bobot prioritas, langkah utama adalah meningkatkan kapasitas SDM, kemudian mengembangkan sistem pengawasan, memperkuat kerja sama antarpemangku kepentingan, serta melakukan advokasi dan lobi kebijakan. Pelaksanaan strategi perlu dipantau secara berkala. Keempat strategi tersebut saling mendukung dan diharapkan membantu meningkatkan kinerja pengawasan di Pangkalan P2MKP secara berkelanjutan.

Strategi peningkatan mempermudah akses bagi penglola dan peserta pelatihan terhadap teknologi baru guna untuk memfasilitasi akses kerja dan modal. Serta pemanfaatan platform layanan digital.

 

Pelaksanaan Pembinaan Kelembagaan P2MKP di Tamansari

 

Pelaksanaan pembinaan kelembagaan Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP) berlangsung di Kecamatan Tamansari pada 12 Juli 2017. Kegiatan ini menjadi forum untuk mengevaluasi perkembangan peran dan fungsi P2MKP sebagai wadah peningkatan sumber daya masyarakat dalam kegiatan budidaya ikan. Informasi kegiatan tersebut dipublikasikan pada 13 Juli 2017.

Pembinaan ini menghadirkan tiga narasumber, yaitu Ir. Herlina, MM., penyuluh perikanan madya; Hj. Ellis Risyani, A.Pi., Kepala Seksi Perbenihan; serta Drs. Anief Hamzah, ketua P2MKP. Pertemuan tersebut membahas perkembangan lembaga dalam mendukung peningkatan kemampuan masyarakat membudidayakan ikan dan menghasilkan produk perikanan yang mampu bersaing.

Baca Juga : P2MKP Strategi Peningkatan Perikanan di Pangkalan

Peran Pembinaan Kelembagaan P2MKP

Pembinaan kelembagaan dilakukan untuk mengevaluasi sejauh mana P2MKP menjalankan peran dan fungsinya. Lembaga ini menjadi wadah bagi masyarakat untuk meningkatkan sumber daya dan kemampuan dalam kegiatan budidaya ikan nila. Melalui evaluasi, perkembangan pelaksanaan fungsi P2MKP dapat dibahas bersama narasumber dan pihak yang terlibat.

Salah satu hal yang menjadi perhatian dalam pertemuan tersebut adalah kegiatan budi daya ikan nila BEST. Produksi ikan nila BEST diharapkan dapat berkembang menjadi produk yang mampu bersaing. Karena itu, penguatan peran P2MKP sebagai tempat peningkatan pengetahuan dan keterampilan masyarakat menjadi bagian penting dari pembinaan kelembagaan.

Narasumber yang hadir membawa peran sesuai bidang masing-masing. Ir. Herlina, MM., sebagai penyuluh perikanan madya, hadir dalam kegiatan pembinaan tersebut. Hj. Ellis Risyani, A.Pi., menjabat sebagai Kepala Seksi Perbenihan, sedangkan Drs. Anief Hamzah merupakan ketua P2MKP. Pertemuan ini menjadi kesempatan untuk mengevaluasi perkembangan lembaga dan membahas pelaksanaan peran P2MKP dalam kegiatan budi daya ikan.

Pembahasan mengenai peran dan fungsi P2MKP berkaitan dengan upaya meningkatkan kemampuan masyarakat. Dengan adanya wadah pelatihan, kelompok dan anggotanya dapat memperoleh dorongan untuk terus mengembangkan kegiatan budi daya. Evaluasi kelembagaan juga membantu meninjau kebutuhan agar kegiatan pelatihan tetap berjalan sesuai tujuan peningkatan sumber daya masyarakat.

Dukungan Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Bogor

Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Bogor turut mendorong P2MKP agar terus melaksanakan kegiatan pelatihan. Salah satu perhatian dalam kebijakan dinas adalah keberlanjutan kurikulum pelatihan yang terstandar. Kurikulum standar diperlukan agar pelaksanaan pelatihan memiliki acuan yang jelas bagi kelompok dan anggotanya.

Selain mendorong kurikulum standar, kebijakan tersebut juga diarahkan untuk memotivasi kelompok dan anggota P2MKP agar memiliki sertifikasi. Sertifikasi yang disebutkan dalam kegiatan ini meliputi Cara Pembenihan Ikan yang Baik (CPIB) dan Cara Budi Daya Ikan yang Baik (CBIB). Kedua sertifikasi tersebut menjadi bagian dari dorongan agar kelompok dan anggotanya memperhatikan standar dalam kegiatan perikanan.

Penguatan Pelatihan dan Daya Saing Produk

Pembinaan kelembagaan P2MKP menghubungkan evaluasi peran lembaga dengan peningkatan kualitas kegiatan pelatihan. Perhatian terhadap kurikulum standar dan sertifikasi menunjukkan bahwa pelatihan tidak hanya berfokus pada pelaksanaan kegiatan, tetapi juga pada dorongan untuk memenuhi standar yang ditetapkan.

Pengembangan produksi ikan nila BEST yang mampu bersaing menjadi salah satu hal yang dibahas dalam konteks peningkatan kemampuan masyarakat. Melalui pembinaan dan pelatihan, P2MKP diharapkan dapat terus menjalankan fungsinya sebagai wadah pembelajaran bagi masyarakat pembudidaya ikan.

Kegiatan pembinaan kelembagaan P2MKP di Kecamatan Tamansari pada 12 Juli 2017 melibatkan narasumber dari bidang penyuluhan perikanan, perbenihan, dan kelembagaan. Pertemuan tersebut mengevaluasi peran P2MKP dalam meningkatkan sumber daya masyarakat untuk budi daya ikan, termasuk pengembangan produksi ikan nila BEST agar mampu bersaing.

Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Bogor mendorong pelaksanaan pelatihan dengan kurikulum standar serta memotivasi kelompok dan anggota untuk memiliki sertifikasi CPIB dan CBIB. Pembinaan ini menegaskan pentingnya evaluasi kelembagaan, pelatihan terarah, dan perhatian terhadap standar untuk mendukung kegiatan budidaya ikan.

Pelatihan P2MKP sebagai wadah masyarakat memproduksi ikan nila untuk dapat menembus pasar dan mampu bersaing Serta memiliki sertifikasi yang baik.

Langkah pembinaan ini juga memberi ruang untuk menyampaikan perkembangan kegiatan dan kebutuhan kelompok.
Dengan demikian, evaluasi dapat menjadi bahan pembahasan bagi pihak yang terlibat dalam menjaga keberlanjutan pelatihan serta fungsi P2MKP sebagai wadah belajar masyarakat.

P2MKP Gelar Pelatihan Budidaya Ikan Gurame

 

Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP) menggelar pelatihan budidaya ikan gurame untuk menambah wawasan dan keterampilan para pembudidaya ikan gurame.

Kegiatan ini berkaitan dengan rencana pengembangan budidaya ikan gurame di Tabalong. Pelatihan tersebut menjadi kesempatan bagi peserta untuk mempelajari teknik pembenihan, pembesaran, serta pengendalian hama dan penyakit ikan.

Rahmani menjelaskan bahwa Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan Sido Makmur merupakan kelompok binaan Badan Pendidikan dan Pelatihan Perikanan Banyuwangi.

Kegiatan pelatihan budidaya ikan gurame ini merupakan pelatihan kedua yang diselenggarakan oleh kelompok tersebut. Pelatihan ini diarahkan untuk mendukung rencana pengembangan komoditas ikan gurame di Tabalong.

 

Baca Lebih Lanjut  : Pelaksanaan Pembinaan Kelembagaan P2MKP di Tamansari

Tujuan Pelatihan Budidaya Ikan Gurame

Peserta pelatihan berasal dari kalangan pembudidaya ikan. Mereka mendapatkan tambahan wawasan mengenai teknik pembenihan dan pembesaran ikan gurame, termasuk cara pengendalian hama dan penyakit ikan. Materi tersebut diharapkan dapat memperluas pengetahuan peserta mengenai tahapan budidaya ikan gurame dan memberikan bekal untuk menerapkannya dalam kegiatan usaha.

Rahmani menambahkan bahwa selama ini kelompok pembudidaya ikan lebih banyak melakukan pembenihan dan pembesaran ikan mas, nila, dan patin.

Oleh karena itu, pengembangan budidaya ikan gurame perlu diuji coba sebagai pilihan kegiatan budidaya.

Melalui pelatihan ini, para pembudidaya dapat mengenal komoditas tersebut dan memperoleh pengetahuan yang sebelumnya belum menjadi fokus utama kegiatan kelompok.

Pengembangan budidaya ikan gurame di Tabalong menjadi alasan penting dilaksanakannya pelatihan.

Penambahan wawasan dan keterampilan diharapkan membantu pembudidaya memahami teknik yang diperlukan, baik untuk pembenihan maupun pembesaran.

Dengan demikian, pelatihan tidak hanya memberikan materi baru, tetapi juga mendukung rencana pengembangan usaha budidaya ikan gurame.

Pelatihan pengembangan Ikan Gurame oleh balai benih ikan

Pelatihan ini menghadirkan narasumber dari Distanakkan setempat. Narasumber berasal dari bidang perikanan, bidang perlindungan, serta Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Balai Benih Ikan (BBI) Kambitin.

Keterlibatan narasumber tersebut berkaitan dengan penyampaian wawasan dan keterampilan mengenai budidaya ikan gurame kepada para peserta.

Rahmani menyampaikan bahwa Tabalong direncanakan mengembangkan budidaya ikan gurame. Karena itu, kegiatan pelatihan diharapkan dapat memberikan tambahan wawasan dan keterampilan kepada pembudidaya agar mampu menerapkan teknik pembenihan maupun pembesaran ikan gurame.

Pernyataan tersebut menegaskan hubungan antara materi pelatihan dan rencana pengembangan budidaya di wilayah tersebut.

Peran P2MKP Sido Makmur dalam Pelatihan Perikanan

P2MKP Sido Makmur telah menjadi binaan Badan Pendidikan dan Pelatihan Perikanan Banyuwangi sejak 2013. Sebelumnya, kegiatan pelatihan yang dilakukan kelompok ini berfokus pada pembenihan dan pembesaran ikan nila, mas, dan patin.

Pelatihan budidaya ikan gurame menjadi bagian dari kegiatan untuk memperluas wawasan pembudidaya terhadap komoditas yang direncanakan untuk dikembangkan di Tabalong.

Kelompok P2MKP Sido Makmur juga dibentuk sebagai percontohan bagi pembudidaya ikan lainnya. Keberadaannya memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengikuti kegiatan berlatih, magang, dan belajar secara langsung di tempat usaha kelompok.

Dengan cara tersebut, masyarakat dapat memperoleh pengalaman belajar yang berkaitan dengan kegiatan budidaya ikan.

Harapan Pengembangan Budidaya Ikan Gurame

Melalui pelatihan ini, pembudidaya diharapkan memperoleh pengetahuan tambahan mengenai pembenihan dan pembesaran ikan gurame, termasuk pengendalian hama dan penyakit. Pengetahuan tersebut menjadi bekal untuk mempertimbangkan penerapan teknik budidaya dalam kegiatan usaha masing-masing.

Pelatihan yang dilaksanakan P2MKP Sido Makmur sekaligus memperlihatkan peran kelompok binaan dalam menyediakan kesempatan belajar bagi masyarakat.

Dengan pengalaman pelatihan sebelumnya pada ikan nila, mas, dan patin, kelompok ini menjadi tempat pembelajaran sekaligus percontohan bagi pembudidaya lain. Rencana pengembangan ikan gurame di Tabalong diharapkan dapat didukung oleh peningkatan wawasan dan keterampilan yang diperoleh melalui kegiatan pelatihan.

Pelatihan tersebut menghubungkan kebutuhan pembudidaya dengan rencana pengembangan komoditas di daerah.

Peserta memperoleh kesempatan untuk mengenal materi yang berkaitan langsung dengan usaha budidaya, sementara kelompok penyelenggara menjalankan fungsi pembelajaran dan percontohan. Fokus pada pembenihan, pembesaran, serta pengendalian hama dan penyakit memberikan gambaran mengenai aspek yang perlu diperhatikan dalam budidaya ikan gurame.

Materi tetap berkaitan dengan tujuan kegiatan, yaitu menambah pengetahuan dan keterampilan pembudidaya.

Masyarakat diberikan kesempatan untuk berlatih, magang dan belajar di tempat usahanya