Randy Farm UD Bandeng Dikukuhkan sebagai P2MKP

RANDY FARM – Randy Farm atau UD. Randy Bandeng resmi ditetapkan dan dikukuhkan sebagai Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP). Pengukuhan ini menjadi langkah penting dalam mendukung pengembangan sumber daya manusia serta memperluas peluang berwirausaha di sektor kelautan dan perikanan.

Dengan penetapan tersebut, Randy Farm diharapkan dapat berkontribusi dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat. Khususnya bagi calon pengusaha yang ingin mengembangkan usaha di bidang kelautan dan perikanan.

Pahami Selengkapnya : P2MKP Latih Puluhan Warga Ketapang Budidaya Ikan Air Tawar

Pengukuhan P2MKP Buka Peluang Pengembangan Usaha

Keberadaan Randy Farm P2MKP juga diharapkan menjadi bagian dari upaya memperkuat sektor usaha perikanan melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Pengembangan keterampilan, serta pertukaran informasi antarpelaku usaha.

Pengukuhan Randy Farm sebagai P2MKP tidak hanya menjadi bentuk pengembangan lembaga pelatihan mandiri, tetapi juga diharapkan mampu membuka kesempatan bagi masyarakat untuk memperoleh pengetahuan yang dapat diterapkan dalam kegiatan usaha.

Suksesnya acara penetapan dan pengukuhan Randy Farm sebagai P2MKP diharapkan menjadi awal semakin terbukanya peluang berwirausaha di sektor kelautan dan perikanan.

Pengembangan usaha di bidang ini membutuhkan dukungan pengetahuan, keterampilan, serta akses terhadap informasi. Hal tersebut penting agar calon pelaku usaha dapat memahami potensi, kebutuhan, dan tantangan dalam menjalankan kegiatan perikanan.

Melalui keberadaan P2MKP, Randy Farm diharapkan dapat menjadi salah satu sarana pembelajaran bagi masyarakat yang ingin memperoleh pengetahuan dan keterampilan dalam mengembangkan usaha.

Peluang tersebut tidak hanya ditujukan bagi pelaku usaha yang telah menjalankan kegiatan perikanan, tetapi juga bagi calon wirausaha yang ingin memulai usaha di sektor tersebut.

Dengan meningkatnya keterampilan masyarakat, diharapkan semakin banyak pelaku usaha yang mampu mengembangkan potensi perikanan secara produktif.

Pengembangan sumber daya manusia menjadi salah satu aspek penting dalam membangun usaha yang berkelanjutan. Pengetahuan yang diperoleh melalui pelatihan dapat menjadi bekal bagi masyarakat untuk meningkatkan kemampuan dalam mengelola kegiatan usaha.

Perkuat Jaringan Informasi Antar-Forkom

Selain pengembangan keterampilan, jalinan informasi antar-Forkom, baik di tingkat pusat maupun provinsi, menjadi salah satu aspek penting dalam mendukung kemajuan sektor kelautan dan perikanan.

Pertukaran informasi dapat membantu pelaku usaha dan lembaga pelatihan saling mengenal, berbagi pengalaman, serta memperoleh wawasan mengenai perkembangan usaha perikanan.

Jaringan komunikasi yang terbangun diharapkan menjadi sarana untuk memperkuat kerja sama dan saling mendukung dalam menghadapi berbagai tantangan di sektor kelautan dan perikanan.

Melalui hubungan yang baik antar-Forkom, informasi mengenai peluang usaha, pengembangan keterampilan, dan potensi sektor perikanan diharapkan dapat disampaikan secara lebih luas.

Jalinan informasi antara Forkom pusat dan provinsi juga menjadi penting untuk memperkuat komunikasi antarlembaga.

Dengan adanya pertukaran pengalaman, masing-masing lembaga diharapkan dapat memperoleh pembelajaran yang bermanfaat bagi pengembangan kegiatan pelatihan dan usaha perikanan.

Kolaborasi tersebut diharapkan mampu memperkuat peran lembaga pelatihan mandiri dalam mendukung pengembangan usaha masyarakat.

Keberadaan Randy Farm sebagai P2MKP diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam meningkatkan kapasitas masyarakat di sektor kelautan dan perikanan.

Lembaga pelatihan mandiri memiliki potensi untuk menjadi tempat masyarakat memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan dalam mengembangkan usaha.

Melalui kegiatan pelatihan, masyarakat diharapkan dapat memahami berbagai aspek usaha perikanan, mulai dari pengelolaan kegiatan hingga pengembangan peluang bisnis.

Peningkatan keterampilan tersebut menjadi penting bagi calon pengusaha agar memiliki bekal dalam menjalankan usaha secara lebih terarah.

Randy Farm Diharapkan Berkontribusi bagi Kemajuan Perikanan

Selain itu, pengembangan kapasitas masyarakat diharapkan dapat mendorong munculnya pelaku usaha baru yang mampu memanfaatkan potensi sektor kelautan dan perikanan.

Dengan dukungan jaringan informasi dan kerja sama antarlembaga, P2MKP diharapkan dapat memperluas manfaat pelatihan bagi masyarakat.

Penetapan dan pengukuhan Randy Farm sebagai P2MKP diharapkan memberikan dampak positif bagi pengembangan usaha kelautan dan perikanan di Indonesia.

Melalui penguatan keterampilan, akses informasi, dan jaringan kerja sama, calon pengusaha di sektor kelautan dan perikanan diharapkan memiliki bekal yang lebih baik untuk memulai serta mengembangkan usahanya.

Ke depan, sinergi antara P2MKP, Forkom, dan berbagai pihak terkait diharapkan dapat terus ditingkatkan agar pengembangan usaha perikanan semakin terarah.

Jalinan informasi yang baik juga diharapkan menjadi sarana untuk saling mendukung, memperluas wawasan, serta mendorong kemajuan usaha di berbagai daerah.

Dengan demikian, pengukuhan Randy Farm sebagai P2MKP tidak hanya menjadi penetapan sebuah lembaga pelatihan, tetapi juga diharapkan menjadi bagian dari upaya memperluas peluang wirausaha dan mendorong kemajuan ekonomi di sektor kelautan dan perikanan Indonesia.

Melalui pengembangan keterampilan dan penguatan kerja sama, sektor perikanan diharapkan semakin mampu memberikan peluang usaha serta mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat.

P2MKP Latih Budidaya Ikan PSE Paroki St. Agustinus Gandeng

 

Kegiatan yang berlangsung di P2MKP Saung Tirta Weuning, Kabupaten Ketapang, pada Sabtu dan Minggu. Tersebut diikuti 40 peserta dari umat Paroki St. Agustinus serta masyarakat yang tertarik mengembangkan usaha perikanan.

Pelatihan ini menghadirkan ketua P2MKP saung Tirta Weuning, Kabupaten Ketapang, pada Sabtu dan Minggu, 25-26 Mei 2024, tersebut diikuti 40 peserta dari umat paroki St. Agustinus serta masyarakat yang tertarik mengembangkan usaha perikanan.

Pahami Selanjutnya : Randy Farm UD Bandeng Dikukuhkan sebagai P2MKP

PSE Dorong Masyarakat Kembangkan Budidaya Ikan

Bidang Pelayanan Kemasyarakatan Paroki St. Agustinus, Tody Hartono. Tujuan pelatihan tersebut memberikan wawasan dan keterampilan kepada masyarakat yang memiliki ketertarikan pada P2MKP budidaya ikan.

Tidak hanya memberikan materi teori, kegiatan tersebut juga dilengkapi praktik pemijahan ikan, pembuatan media penetasan, penyuntikan indukan, hingga pembuatan pakan alternatif. Pelatihan difokuskan pada budidaya ikan lele sebagai salah satu peluang usaha yang dapat dikembangkan di lingkungan keluarga.

Pengetahuan yang diperoleh diharapkan dapat menjadi bekal bagi peserta untuk memulai usaha sekaligus meningkatkan produktivitas keluarga. Sementara itu, Koordinator Tim Kerja PSE Caritas, Alponsius, berharap kegiatan tersebut mampu membangun minat umat untuk mengembangkan usaha budidaya ikan secara mandiri.

Pelatihan dirancang secara komprehensif, mulai dari teori, praktik pemijahan, pembuatan media, pakan, hingga diskusi pemasaran. Dalam aspek permodalan, PSE juga mendorong peserta menjalin kemitraan dengan CUPS yang selama ini memiliki perhatian terhadap pemberdayaan ekonomi kerakyatan.

Ketua Pengurus CUPS, TMS. Hery Sukardi, mengapresiasi pelaksanaan pelatihan yang dinilai dapat memperkuat keterampilan masyarakat dalam bidang perikanan. CUPS telah lama bersinergi dengan Kang Acil dalam kegiatan pendampingan perikanan bagi anggota, termasuk hingga wilayah Natai Kueni yang berada di perbatasan Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat.

Pelatihan di Saung Tirta Weuning memberikan kesempatan bagi peserta untuk belajar langsung di pusat pelatihan yang memiliki fasilitas budidaya dan usaha pendukung. Ia menegaskan, CUPS bersama P2MKP siap memberikan pendampingan dan ruang diskusi secara berkelanjutan agar ilmu yang diperoleh peserta dapat diterapkan.

Praktik Ikan Lele hingga Pembuatan Pakan

Pada hari pertama, kegiatan diawali dengan seremoni pembukaan, kemudian dilanjutkan dengan praktik budidaya ikan lele. Peserta belajar membuat media untuk meletakkan telur hasil pemijahan, melakukan penyuntikan hormon perangsang pada indukan, serta mengenal teknik pemijahan intensif dan semiintensif.

Salah satu peserta, Herkulana, mengaku mendapatkan pengalaman baru saat mengikuti praktik penyuntikan indukan ikan. Termotivasi untuk mulai membudidayakan ikan lele menggunakan media terpal di lingkungan rumah.

Pada hari kedua, peserta melanjutkan praktik mengeluarkan telur dari indukan betina, kemudian mencampurkannya dengan sperma indukan jantan. Telur yang telah dibuahi selanjutnya ditempatkan pada media akuarium dan stereofoam yang telah disiapkan.

“Nilai pelatihan hari ini 70-lah, karena belum kelihatan hasilnya. Nah, 24–27 jam ke depan atau besok hari Senin, ketika telur ini menetas jadi larva, nilainya 110-lah buat peserta,”

Setelah praktik pemijahan, kegiatan dilanjutkan dengan materi pembuatan pakan ikan menggunakan bahan baku yang tersedia di sekitar masyarakat. Gugah Sundana menjelaskan, pembuatan pakan alternatif dapat menjadi salah satu upaya menekan biaya operasional budidaya. Apabila harga pakan komersial mencapai Rp15.000 per kilogram, pakan alternatif dapat dibuat dengan biaya sekitar Rp7.800 per kilogram.

Kolaborasi Lintas  dan Rencana Pendampingan

Pembuatan pakan tetap perlu memperhatikan kebutuhan nutrisi ikan, termasuk kandungan protein hewani, protein nabati, dan unsur lain sesuai usia ikan. Ini sangat penting dipahami pembudidaya untuk menekan cost operational dan tetap memaksimalkan hasil produksi. Alumnus Universitas Muhammadiyah dan Universiti Putra Malaysia tersebut mendedikasikan dirinya pada penelitian dan produksi pakan alternatif untuk budidaya ikan.

Sebagai tindak lanjut pelatihan, PSE berencana membentuk kelompok budidaya ikan di lingkungan umat Paroki St. Agustinus. Kelompok tersebut nantinya akan mendapatkan pendampingan dan supervisi dari tim CUPS serta P2MKP.

Alponsius menilai kegiatan tersebut tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga memperkuat hubungan sosial antarumat berbeda agama. Pelatihan menjadi ruang belajar bersama yang memperlihatkan semangat kebersamaan dan kolaborasi dalam mengembangkan potensi masyarakat.

Kegiatan ditutup dengan foto bersama dan menikmati hidangan karedok serta makanan khas Sunda di restoran Saung Tirta Weuning, yang terletak di turunan sebelah kanan Jembatan Pawan II, Ketapang.

P2MKP Situbondo Kembangkan Pembenihan dan Pendederan Kerapu Cantang

Ikan kerapu cantang dikenal sebagai ikan hasil persilangan kerapu macan dan kerapu kertang. Komoditas ini dikembangkan dalam kegiatan budidaya karena memiliki potensi pasar, baik untuk memenuhi kebutuhan konsumen lokal maupun peluang perdagangan yang lebih luas.

Pengembangan budidaya kerapu cantang membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang memadai, terutama dalam proses pembenihan dan pendederan. Kedua tahapan tersebut menjadi bagian penting untuk menghasilkan benih berkualitas sebelum memasuki tahap pembesaran hingga panen.

Informasih Lebih Lanjut : P2MKP Latih Budidaya Ikan PSE Paroki St. Agustinus Gandeng

Budidaya Kerapu Cantang Memiliki Potensi Ekonomi

Kabupaten Situbondo dikenal memiliki kegiatan perikanan laut dan menjadi salah satu sumber penghidupan masyarakat pesisir. Budidaya kerapu cantang merupakan komoditas perikanan laut yang memiliki nilai ekonomi dan peluang pemasaran. Permintaan terhadap P2MKP ikan kerapu dapat berasal dari pasar lokal maupun perdagangan antardaerah, sehingga pengembangan budidayanya menjadi salah satu pilihan usaha bagi masyarakat.

Kerapu cantang menjadi salah satu jenis kerapu yang dibudidayakan dengan memanfaatkan teknik pembenihan dan pemeliharaan yang sesuai dengan karakteristik ikan. Namun, keberhasilan usaha budidaya tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan benih. Pengelolaan kualitas air, pemberian pakan, kesehatan ikan, serta pemantauan pertumbuhan juga menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan.

Dengan pengelolaan yang baik, kegiatan budidaya diharapkan dapat menghasilkan ikan yang sehat dan memiliki kualitas sesuai kebutuhan pasar.

Pembenihan merupakan tahap awal dalam siklus budidaya ikan kerapu cantang. Pada tahap ini, kegiatan dimulai dari pengelolaan induk dan telur hingga pemeliharaan larva yang baru menetas. Penanganan telur menjadi salah satu proses penting karena kondisi telur dan lingkungan pemeliharaan berpengaruh terhadap keberhasilan penetasan.

Telur yang telah dibuahi perlu ditempatkan pada media pemeliharaan dengan kondisi air yang sesuai. Pemantauan kualitas air dilakukan untuk menjaga lingkungan tetap mendukung perkembangan embrio dan larva.

Setelah menetas, larva memasuki fase pemeliharaan yang membutuhkan perhatian khusus. Pada fase ini, pengelola perlu memperhatikan pemberian pakan, kondisi air, serta perkembangan larva secara berkala.

Pakan diberikan sesuai dengan tahapan pertumbuhan dan kebutuhan larva. Pengelolaan pakan yang tepat menjadi salah satu faktor penting untuk mendukung pertumbuhan dan menjaga kondisi ikan. Selain itu, pemantauan kesehatan dan kebersihan media pemeliharaan diperlukan untuk mengurangi risiko gangguan selama proses pembenihan.

Pendederan Kerapu Cantang Perlu Pengelolaan Intensif

Setelah melewati fase larva, ikan kerapu cantang memasuki tahap pendederan. Tahapan ini bertujuan memelihara benih hingga mencapai ukuran yang lebih siap untuk dipindahkan ke tahap pembesaran.

Dalam proses pendederan, pengelola perlu memperhatikan pertumbuhan dan kondisi benih secara rutin. Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah pengelompokan ukuran atau grading. Proses ini bertujuan memisahkan ikan berdasarkan ukuran agar pemeliharaan dapat dilakukan secara lebih teratur.

Grading juga membantu pengelola memantau keseragaman pertumbuhan dan mengurangi persaingan antarikan dalam memperoleh pakan. Selain itu, kualitas air menjadi faktor yang tidak boleh diabaikan. Kondisi air yang sesuai dengan kebutuhan ikan dapat membantu mendukung pertumbuhan dan menjaga kesehatan benih.

Pemberian pakan juga perlu disesuaikan dengan ukuran dan perkembangan ikan. Pengelolaan pakan yang tepat diharapkan dapat membantu meningkatkan efisiensi pemeliharaan. Melalui tahapan pendederan yang terkelola dengan baik, benih kerapu cantang diharapkan dapat tumbuh lebih optimal sebelum memasuki tahap pembesaran.

Keberhasilan pembenihan dan pendederan menjadi dasar penting dalam kegiatan pembesaran ikan kerapu cantang. Benih yang sehat dan memiliki pertumbuhan baik dapat menjadi modal bagi pembudidaya untuk melanjutkan proses pemeliharaan hingga mencapai ukuran panen.

P2MKP Dukung Pengembangan Keterampilan Budidaya Kualitas Benih

Pada tahap pembesaran, ikan membutuhkan pengelolaan lingkungan, pakan, dan kesehatan yang berkelanjutan. Pemantauan pertumbuhan dilakukan untuk mengetahui perkembangan ikan serta memastikan kegiatan pemeliharaan berjalan sesuai kebutuhan.

Panen menjadi tahap akhir dalam siklus pembesaran. Waktu panen ditentukan berdasarkan ukuran ikan, kondisi pemeliharaan, dan kebutuhan pasar. Dengan memperhatikan seluruh tahapan tersebut, pembudidaya dapat mengelola kegiatan perikanan secara lebih terencana.

Pengembangan pembenihan dan pendederan ikan kerapu cantang membutuhkan sumber daya manusia yang memiliki pemahaman mengenai teknik budidaya. P2MKP diharapkan dapat menjadi sarana pembelajaran bagi masyarakat yang ingin meningkatkan pengetahuan dan keterampilan di bidang perikanan.

Materi pembelajaran dapat mencakup pengelolaan induk, penanganan telur, pemeliharaan larva, pemberian pakan, pengelolaan kualitas air, grading, hingga persiapan benih untuk pembesaran. Peningkatan keterampilan tersebut menjadi penting untuk mendukung pengembangan usaha perikanan yang berkelanjutan.

Dengan potensi pasar ikan kerapu dan dukungan pengetahuan budidaya, pengembangan komoditas kerapu cantang di Situbondo diharapkan dapat membuka peluang usaha bagi masyarakat. Pengelolaan budidaya yang baik, mulai dari pembenihan hingga panen, menjadi salah satu langkah untuk meningkatkan produktivitas serta mendukung perkembangan sektor perikanan daerah.

P2MKP Pelatihan Wedang Rumput Laut Bersama Desa Bojong

Kegiatan yang berlangsung tersebut dilaksanakan di gedung pengolahan hasil kelautan di wilayah Bojong. Pelatihan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta dalam mengolah rumput laut menjadi minuman yang memiliki nilai tambah.

Melalui kegiatan tersebut, peserta mendapatkan pembelajaran mengenai bahan yang digunakan, tahapan pembuatan. Serta teknik pengolahan wedang rumput laut yang sehat dan menarik.

Pelatihan ini menjadi salah satu upaya untuk mendorong masyarakat memanfaatkan potensi hasil laut sebagai bahan baku produk olahan. Selain menambah keterampilan, kegiatan tersebut diharapkan dapat membuka peluang pengembangan usaha berbasis pangan lokal.

Baca Selengkapnya : P2MKP Situbondo Kembangkan Pembenihan dan Pendederan Kerapu Cantang

P2MKP Berikan Pelatihan Pengolahan Rumput Laut

Pelatihan diikuti oleh anggota tim Dapur Cantik Desa Cantika Bojong yang memiliki keterkaitan dengan pengembangan potensi hasil laut di wilayahnya. Sebagai pemateri, P2MKP Pelatihan Wedang Rumput Laut Tangerang Selatan menghadirkan Purwanti, yang memiliki keahlian dalam pembuatan wedang rumput laut.

Dalam penyampaian materi, Purwanti menjelaskan tahapan pembuatan wedang rumput laut, mulai dari pemilihan bahan baku hingga proses pengolahan dan penyajian. Peserta juga mendapatkan pengetahuan mengenai pentingnya memilih bahan yang tepat agar produk yang dihasilkan memiliki kualitas baik.

Selain pembekalan teori, kegiatan dilanjutkan dengan praktik pembuatan wedang rumput laut. Peserta diajak mengenal proses pengolahan secara langsung, sehingga dapat memahami setiap tahapan yang diperlukan dalam menghasilkan minuman tersebut. Praktik ini menjadi bagian penting dalam pelatihan karena peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga pengalaman yang dapat diterapkan kembali di lingkungan masing-masing.

Dengan adanya pendampingan dari P2MKP, peserta diharapkan semakin memahami cara mengolah rumput laut menjadi produk minuman yang dapat dikembangkan sebagai usaha.

Wedang Rumput Laut Jadi Peluang Produk Olahan Lokal

Rumput laut merupakan salah satu hasil kelautan yang dapat diolah menjadi berbagai produk pangan. Pemanfaatannya sebagai bahan dasar minuman menjadi salah satu alternatif untuk meningkatkan nilai tambah komoditas tersebut. Melalui pelatihan pembuatan wedang rumput laut, masyarakat Bojong diperkenalkan pada peluang pengembangan produk olahan yang dapat dilakukan dengan memanfaatkan bahan baku hasil laut.

Pengolahan bahan baku menjadi produk siap konsumsi diharapkan dapat memberikan nilai ekonomi lebih dibandingkan hanya menjual bahan mentah. Keterampilan tersebut juga dapat menjadi bekal bagi masyarakat yang ingin mengembangkan usaha makanan dan minuman berbasis potensi lokal.

Bagi tim Dapur Cantik Desa Cantika Bojong, pelatihan ini menjadi kesempatan untuk memperluas pengetahuan mengenai pengolahan hasil kelautan sekaligus mengenal variasi produk yang dapat dikembangkan.

Dengan pengetahuan yang diperoleh, peserta diharapkan mampu menerapkan teknik pengolahan yang telah dipelajari serta mengembangkan kreativitas dalam menghasilkan produk. Pengembangan produk olahan rumput laut juga berpotensi menjadi kegiatan produktif yang dapat dilakukan oleh masyarakat secara berkelompok maupun dalam skala rumah tangga.

Tingkatkan Keterampilan dan Kreativitas Masyarakat Bojong

Pelatihan online pembuatan wedang rumput laut diharapkan memberikan manfaat bagi peserta dan masyarakat Desa Bojong secara luas. Peningkatan keterampilan menjadi salah satu tujuan utama kegiatan tersebut. Melalui pembelajaran teori dan praktik, peserta diharapkan memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai cara mengolah rumput laut menjadi minuman.

Selain keterampilan teknis, kegiatan ini juga mendorong masyarakat untuk lebih kreatif dalam memanfaatkan potensi sumber daya kelautan. Pengembangan produk olahan dapat menjadi langkah awal untuk memperkenalkan hasil laut dalam bentuk yang lebih beragam kepada masyarakat.

Apabila keterampilan tersebut terus dikembangkan, produk wedang rumput laut berpotensi menjadi salah satu pilihan usaha yang dapat dikelola oleh masyarakat. Pelatihan ini juga memperlihatkan pentingnya kerja sama antara pemerintah desa, kelompok masyarakat, dan lembaga pelatihan dalam meningkatkan kapasitas warga.

Melalui kolaborasi dengan P2MKP Dapur Rumput Laut Tangerang Selatan, peserta memperoleh kesempatan untuk belajar dari tenaga yang memiliki pengalaman dalam pengolahan rumput laut. Ke depan, peningkatan keterampilan dan kreativitas masyarakat diharapkan dapat mendukung pengembangan produk berbasis hasil laut serta memberikan manfaat ekonomi bagi lingkungan sekitar.

Dengan memanfaatkan potensi rumput laut dan memperkuat kemampuan pengolahan, masyarakat Desa Bojong diharapkan dapat mengembangkan produk lokal yang memiliki nilai tambah dan membuka peluang usaha baru.

Pelatihan ini menjadi salah satu langkah dalam mendorong masyarakat agar semakin terampil, produktif, dan mampu mengoptimalkan potensi sumber daya kelautan yang tersedia.

P2MKP Latih Puluhan Warga Ketapang Budidaya Ikan Air Tawar

 

Pelatihan yang dipusatkan di Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP) Kabupaten Ketapang tersebut berlangsung selama tiga hari. Peserta tidak hanya mendapatkan pembekalan teori, tetapi juga praktik penyemaian benih dan pembuatan pakan ikan secara ekonomis.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan keterampilan masyarakat dalam mengembangkan usaha budidaya ikan air tawar. Selain membuka peluang usaha, program tersebut diharapkan mampu membantu memenuhi kebutuhan ikan di tingkat desa serta meningkatkan ketahanan pangan keluarga.

Baca Juga : P2MKP Pelatihan Wedang Rumput Laut Bersama Desa Bojong

Pelatihan Budidaya dan Tingkatkan Kapasitas Warga

Ketua Tirta Weuning Kabupaten Ketapang, M Abduh, bertindak sebagai pemateri sekaligus pendamping selama pelatihan P2MKP Budidaya Ikan Air Tawar berlangsung.

Sebelum mengikuti praktik, peserta terlebih dahulu mendapatkan pemahaman mengenai dasar-dasar budidaya ikan air tawar. Materi tersebut menjadi bekal bagi warga untuk mengenal tahapan pengembangan usaha perikanan, mulai dari persiapan hingga pengelolaan budidaya.

Dalam kegiatan praktik, peserta diperkenalkan dengan teknik penyemaian benih serta pembuatan pakan ikan. Keterampilan tersebut diharapkan dapat membantu kelompok pembudidaya mengelola usaha secara lebih efektif, terutama dalam memenuhi kebutuhan pakan yang menjadi salah satu komponen penting dalam biaya produksi.

Salah satu peserta, Kadorusno, mengatakan pelatihan vokasi budidaya ikan air tawar memberikan manfaat besar bagi masyarakat. Menurutnya, kebutuhan ikan air tawar cukup tinggi, sementara ketersediaannya di tingkat pembudidaya masih terbatas.

Kepala Desa Kayong Utara, Kecamatan Nanga Tayap, itu menjelaskan bahwa desanya pernah memiliki kelompok budidaya ikan air tawar. Namun, kegiatan kelompok tersebut tidak berkembang karena minimnya pendampingan.

“Dengan adanya pelatihan dari CSR perusahaan ini ada penguatan kapasitas. Penguatan kapasitas inilah yang diharapkan untuk keberlangsungan budidaya ikan air tawar,”

Desa Siapkan Kelompok Budidaya untuk Ketahanan Pangan

Kadorusno mengungkapkan, pemerintah desa turut mendukung pengembangan budidaya ikan air tawar melalui alokasi anggaran untuk program ketahanan pangan.

Menurutnya, desa mengalokasikan 20 persen dari anggaran yang disebutnya sebagai ADD dan DD untuk mendukung ketahanan pangan, termasuk pengembangan budidaya ikan air tawar.

Pada tahun ini, terdapat tiga kelompok budidaya ikan air tawar yang dibentuk di desa tersebut. Setiap kelompok beranggotakan sekitar 10 orang.

Langkah tersebut diharapkan dapat menjadi awal pengembangan usaha perikanan berbasis masyarakat. Dengan adanya kelompok, warga diharapkan lebih mudah melakukan koordinasi, berbagi pengetahuan, serta mengelola kegiatan budidaya secara bersama-sama.

Selama ini, kebutuhan ikan air tawar masyarakat masih dipenuhi dengan mendatangkan pasokan dari luar desa. Padahal, sebagian besar warga memiliki mata pencaharian di sektor pertanian dan perkebunan.

Melalui pengembangan budidaya ikan, masyarakat diharapkan memiliki sumber usaha tambahan sekaligus meningkatkan ketersediaan pangan lokal.

Kadorusno berharap pelatihan dan pendampingan yang diberikan BGA dapat membantu kelompok budidaya bertahan dan berkembang. Ia juga menilai keterlibatan perusahaan dapat menjadi motivasi bagi masyarakat untuk melihat perikanan sebagai peluang ekonomi yang menjanjikan.

BGA Dorong Usaha Perikanan Berkelanjutan

Pelatihan budidaya ikan air tawar merupakan salah satu program perusahaan untuk memberikan dampak positif bagi masyarakat di sekitar wilayah operasional.

Menurutnya, potensi perikanan air tawar cukup besar sehingga perlu dikembangkan melalui pembinaan yang berkelanjutan.

“Pelatihan ini kita lihat penting karena potensi dari ikan air tawar luar biasa. Makanya ini kita lakukan sebagai upaya pengembangan usaha binaan perikanan yang berkelanjutan,”

Sebelum pelatihan dilaksanakan, BGA telah melakukan pembinaan kepada masyarakat melalui bantuan bibit ikan.

P2MKP turut mendukung pelaksanaan program tersebut. Selain itu, kebutuhan ikan di perusahaan juga menjadi salah satu peluang yang dapat dipertimbangkan dalam pengembangan usaha budidaya masyarakat.

Selain materi budidaya, peserta juga mendapatkan pembelajaran mengenai pembuatan pakan ikan secara ekonomis. Upaya tersebut ditujukan untuk membantu kelompok mengelola kebutuhan pakan dengan lebih efisien.

Melalui program ini, BGA berharap masyarakat binaan semakin memiliki keterampilan dalam mengembangkan usaha perikanan. Penguatan kapasitas kelompok, dukungan sarana budidaya, serta pendampingan lanjutan diharapkan menjadi modal bagi warga untuk mengembangkan usaha secara mandiri.

Dengan potensi pasar yang tersedia dan dukungan berbagai pihak, budidaya ikan air tawar di Kabupaten Ketapang diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif usaha produktif bagi masyarakat, sekaligus mendukung pemenuhan kebutuhan pangan keluarga.

P2MKP Bisnis Ikan Hias Digitalisasi bersama NSC UNM

Kegiatan yang berlangsung pada Kamis (7/5) tersebut dilaksanakan di lokasi budidaya P2MKP Mina Mulya, Jalan KH Mas’ud, Desa Tridaya Sakti, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi. Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya Universitas Nusa Mandiri sebagai Kampus Digital Bisnis dalam mengembangkan inovasi teknologi yang dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat dan pelaku usaha lokal.

Melalui observasi tersebut, NSC berupaya mengidentifikasi kebutuhan pelaku usaha budidaya ikan hias sekaligus melihat peluang penerapan teknologi informasi dalam pengelolaan bisnis akuakultur. Hasil pengamatan diharapkan menjadi dasar untuk mengembangkan solusi digital yang sesuai dengan kebutuhan di lapangan.

Informasi Lebih Lanjut : Pemprov Jateng Dukung Pemberdayaan Masyarakat P2MKP

NSC Universitas Nusa Mandiri Jajaki Potensi Digitalisasi

Dalam kunjungan tersebut, tim NSC bertemu dengan Didi selaku Ketua Forum P2MKP bisnis ikan hias digitalisasi. Pertemuan dimanfaatkan untuk berdiskusi mengenai kondisi usaha, tantangan distribusi, serta peluang pengembangan bisnis melalui pemanfaatan teknologi digital.

Diskusi tersebut menjadi bagian penting dalam memahami kebutuhan pelaku usaha secara langsung. Dengan mengetahui kondisi operasional dan kendala yang dihadapi, pengembangan teknologi diharapkan tidak hanya berorientasi pada inovasi, tetapi juga mampu memberikan solusi terhadap persoalan nyata.

Sektor budidaya ikan hias dinilai memiliki peluang ekonomi yang menjanjikan. Namun, pengelolaan usaha dan distribusi produk membutuhkan dukungan sistem yang efektif agar kegiatan bisnis dapat berjalan lebih terorganisasi.

Karena itu, NSC melakukan pengamatan terhadap unit budidaya akuakultur untuk mengidentifikasi kemungkinan penerapan teknologi informasi dan sistem manajemen operasional berbasis digital.

Salah satu perhatian utama dalam kegiatan observasi adalah pengembangan solusi digital untuk mendukung distribusi ikan hias. Sistem distribusi yang lebih efektif dan terintegrasi diharapkan dapat membantu pelaku usaha mengelola proses pemasaran serta memperluas jangkauan konsumen.

Digitalisasi Distribusi Ikan Hias Jadi Fokus Observasi

Pemanfaatan teknologi digital berpotensi mendukung pengelolaan informasi produk, komunikasi dengan pelanggan, hingga koordinasi distribusi. Dengan sistem yang tepat, pelaku usaha dapat memperoleh kemudahan dalam mengelola aktivitas bisnis dan meningkatkan efisiensi operasional.

Kepala Nusa Mandiri Startup Center, Siti Nurlela, mengatakan bahwa sektor budidaya ikan hias memiliki peluang besar untuk dikembangkan melalui inovasi startup digital. Menurutnya, pengembangan teknologi perlu diawali dengan memahami kebutuhan mitra agar solusi yang dihasilkan benar-benar sesuai dengan kondisi usaha.

“Budidaya ikan hias memiliki potensi ekonomi yang menjanjikan. Melalui observasi ini, NSC ingin melihat secara langsung kebutuhan mitra agar nantinya dapat dikembangkan solusi digital yang relevan,” ujarnya dalam rilis yang diterima pada Senin (11/5).

Siti Nurlela menambahkan bahwa transformasi digital bagi usaha mikro dan komunitas budidaya menjadi langkah penting untuk meningkatkan daya saing. Perkembangan teknologi dan pasar digital menuntut pelaku usaha untuk terus beradaptasi agar mampu menjangkau peluang pasar yang lebih luas.

Kegiatan observasi di P2MKP Mina Mulya juga menjadi bagian dari penguatan ekosistem inovasi dan kewirausahaan digital yang dikembangkan Universitas Nusa Mandiri.

Sebagai perguruan tinggi yang mengusung identitas Kampus Digital Bisnis, UNM tidak hanya mendorong pengembangan teknologi di lingkungan akademik. Universitas juga berupaya memperluas penerapan inovasi melalui kolaborasi dengan masyarakat, komunitas, dan pelaku usaha di berbagai sektor.

Harapkan Kolaborasi Lanjutan untuk Kemajuan Akuakultur

Pendekatan tersebut membuka peluang bagi mahasiswa dan pengembang startup untuk memahami kebutuhan pasar secara langsung. Dengan demikian, inovasi yang dikembangkan dapat memiliki orientasi pemecahan masalah dan potensi penerapan dalam kegiatan ekonomi masyarakat.

Kolaborasi dengan P2MKP Mina Mulya menjadi salah satu langkah untuk mempertemukan potensi sektor akuakultur dengan pengembangan teknologi digital. Melalui komunikasi dan pengamatan langsung, kebutuhan pelaku usaha dapat menjadi bahan pertimbangan dalam merancang inovasi yang tepat guna.

Melalui kegiatan ini, NSC berharap dapat membuka peluang kerja sama lanjutan dengan P2MKP Mina Mulya dalam pengembangan startup berbasis teknologi. Kolaborasi tersebut diharapkan menghasilkan solusi digital yang dapat mendukung pengelolaan usaha dan meningkatkan daya saing bisnis budidaya ikan hias.

Digitalisasi sektor akuakultur juga berpotensi menjadi salah satu upaya untuk memperkuat pemasaran produk perikanan. Dukungan teknologi yang sesuai kebutuhan dapat membantu pelaku usaha beradaptasi dengan perubahan pola perdagangan dan perilaku konsumen.

Universitas Nusa Mandiri menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan inovasi, kolaborasi, dan pengembangan startup yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Melalui peran NSC, potensi usaha lokal diharapkan dapat terhubung dengan perkembangan teknologi sehingga mampu menciptakan peluang bisnis baru dan memperkuat daya saing sektor akuakultur di era digital.

P2MKP Kembangkan Usaha Kerupuk Tulang Ikan Lele

Pemanfaatan seluruh bagian ikan menjadi salah satu peluang untuk mengembangkan usaha pengolahan hasil perikanan. Salah satunya melalui inovasi pembuatan kerupuk tulang ikan lele dengan konsep zero waste process atau pengolahan minim limbah. Inovasi ini tidak hanya menghasilkan produk pangan bernilai tambah, tetapi juga membuka peluang usaha yang layak dikembangkan oleh pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Salah satu usaha yang mengembangkan produk tersebut adalah UMKM Daniel Home Industri. Usaha ini mengolah tulang ikan lele menjadi kerupuk melalui sejumlah tahapan produksi, mulai dari penerimaan bahan baku hingga pengemasan dan penyimpanan produk.

Pengolahan tulang ikan lele menjadi kerupuk merupakan bentuk diversifikasi produk perikanan. Bagian ikan yang berpotensi tidak dimanfaatkan secara optimal dapat diolah menjadi produk baru yang memiliki nilai ekonomi. Dengan demikian, pemanfaatan bahan baku ikan dapat dilakukan secara lebih maksimal.

Pahami Selanjutnya : P2MKP Bisnis Ikan Hias Digitalisasi Bersama NSC UNM

Kerupuk Tulang Ikan Lele Jadi Peluang Usaha Olahan Perikanan

P2MKP kembangan usaha kerupuk tulang Ikan lele dikenal sebagai salah satu komoditas perikanan yang banyak dibudidayakan dan dimanfaatkan sebagai bahan pangan. Dalam proses pengolahan tulang ikan, sering kali belum dimanfaatkan secara maksimal. Padahal, dengan pengolahan yang tepat, bagian tersebut dapat dikembangkan menjadi produk pangan alternatif.

Konsep zero waste process menjadi pendekatan untuk mengurangi bagian bahan baku yang terbuang selama proses produksi. Melalui inovasi kerupuk tulang ikan lele, pelaku usaha dapat menciptakan produk tambahan sekaligus meningkatkan nilai ekonomi dari bahan yang sebelumnya kurang dimanfaatkan.

Pengembangan produk ini juga menunjukkan bahwa usaha pengolahan hasil perikanan tidak harus selalu bergantung pada produk utama. Kreativitas dalam mengolah bagian lain dari ikan dapat menjadi sumber peluang usaha baru. Tahapan Produksi Kerupuk Tulang Ikan Lele.

Berdasarkan hasil observasi pada UMKM Daniel Home Industri, proses pembuatan kerupuk tulang ikan lele terdiri atas beberapa tahapan yang dilakukan secara berurutan. Setiap tahap memiliki peran penting untuk menghasilkan produk yang siap dipasarkan. Pengolahan Bahan Baku dan Pembuatan Adonan.

Proses produksi diawali dengan penerimaan bahan baku, kemudian dilanjutkan dengan pencucian untuk membersihkan tulang ikan lele. Setelah itu, tulang direbus dan dihaluskan sebelum dicampurkan ke dalam adonan.

Tahap pencampuran dilakukan untuk menghasilkan adonan yang dapat dibentuk menjadi kerupuk. Selanjutnya, adonan dicetak dan dikukus agar terbentuk struktur produk sebelum memasuki proses berikutnya. Pemotongan, Penjemuran, dan Pengemasan.

Setelah dikukus, adonan dipotong sesuai bentuk dan ukuran yang diinginkan. Potongan tersebut kemudian dijemur hingga mencapai kondisi yang sesuai untuk proses penggorengan.

Tahap selanjutnya adalah penggorengan, pengemasan, dan penyimpanan. Produk yang telah dikemas kemudian ditata pada tempat display agar lebih mudah diperkenalkan dan ditawarkan kepada konsumen.

Rangkaian proses tersebut memperlihatkan bahwa pengolahan tulang ikan lele membutuhkan tahapan produksi yang terencana. Kebersihan bahan baku, ketepatan proses pengolahan, dan pengemasan menjadi aspek yang perlu diperhatikan untuk menjaga mutu produk.

Analisis Kelayakan Usaha Kerupuk Tulang Ikan Lele

Selain mengamati proses produksi, kajian terhadap UMKM Daniel Home Industri juga dilakukan untuk mengetahui kelayakan usaha kerupuk tulang ikan lele. Analisis ini penting sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan potensi pengembangan usaha.

Penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Analisis data dilakukan melalui analisis finansial dan analisis kelayakan usaha untuk mengetahui gambaran proses pengolahan serta kemampuan usaha menghasilkan keuntungan.

Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai Break Even Point (BEP) unit tercapai apabila produksi mencapai 100 kemasan atau produk per bulan. Sementara itu, BEP rupiah tercapai ketika nilai penjualan mencapai Rp1.704.849,94 per bulan.

Adapun nilai Revenue Cost Ratio (R/C Ratio) tercatat sebesar 2,02. Nilai tersebut menunjukkan bahwa penerimaan usaha lebih besar dibandingkan biaya yang dikeluarkan. Berdasarkan hasil perhitungan tersebut, usaha kerupuk tulang ikan lele di UMKM Daniel Home Industri dinilai layak untuk dikembangkan.

Dorong Inovasi dan Nilai Tambah Produk Perikanan

Pengembangan kerupuk tulang ikan lele memberikan gambaran bahwa inovasi pengolahan dapat menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan nilai tambah hasil perikanan. Pemanfaatan tulang ikan sebagai bahan baku produk olahan juga mendukung penggunaan sumber daya secara lebih optimal.

Selain membuka peluang pendapatan, usaha ini dapat menjadi contoh diversifikasi produk bagi pelaku UMKM di sektor perikanan. Pengembangan usaha tetap perlu didukung pengelolaan produksi, pengendalian mutu, pengemasan, serta pemasaran yang baik.

Melalui pendekatan zero waste process, pengolahan hasil perikanan diharapkan tidak hanya menghasilkan produk bernilai ekonomi, tetapi juga mendorong pemanfaatan bahan baku secara lebih efisien. Kerupuk tulang ikan lele pun berpotensi menjadi salah satu produk unggulan olahan perikanan yang dapat dikembangkan lebih luas.

Melatih Ibu Rumah Tangga di Pulo Aceh P2MKP Ikan Tongkol

Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP) bersama tim pengabdian kepada masyarakat menggelar pelatihan pengolahan ikan tongkol menjadi produk lokal eungkoet keumamah bagi ibu rumah tangga di Gampong Gugop, Pulo Aceh. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan keterampilan masyarakat dalam mengolah hasil laut sekaligus membuka peluang usaha baru untuk menambah pendapatan keluarga.

Pulo Aceh merupakan wilayah yang memiliki potensi sumber daya kelautan dan perikanan melimpah. Berbagai jenis ikan menjadi hasil tangkapan nelayan dan sumber penghidupan masyarakat setempat. Namun, selama ini sebagian hasil laut, termasuk ikan tongkol, masih banyak dijual dalam kondisi mentah kepada agen untuk didistribusikan ke wilayah lain.

Kondisi tersebut menunjukkan adanya peluang pengembangan usaha melalui pengolahan hasil perikanan. Dengan keterampilan dan pengetahuan yang tepat, ikan hasil tangkapan nelayan dapat diolah menjadi produk bernilai tambah, memiliki daya simpan lebih baik, serta berpotensi menjangkau pasar yang lebih luas.

Pelajari Selengkapnya : P2MKP Kembangkan Usaha Kerupuk Tulang Ikan Lele

Tingkatkan Keterampilan Ibu Rumah Tangga

Pelatihan pengolahan P2MKP ikan tongkol menjadi eungkoet keumamah dilaksanakan sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat, khususnya ibu rumah tangga di Gampong Gugop. Kegiatan ini memberikan pengetahuan dan keterampilan praktis agar masyarakat mampu memanfaatkan potensi hasil laut di lingkungan mereka.

Tim pengabdian menilai bahwa keterampilan masyarakat perlu terus dikembangkan agar mampu menghadapi tantangan ekonomi dan dunia kerja. Pelatihan menjadi salah satu cara untuk meningkatkan pengetahuan, membangun kreativitas, serta mendorong masyarakat agar lebih produktif.

Selama ini, sebagian ibu rumah tangga di Gampong Gugop masih membutuhkan pendampingan dalam mengembangkan kegiatan kewirausahaan. Karena itu, pelatihan tidak hanya diarahkan pada kemampuan mengolah bahan baku, tetapi juga memperkenalkan peluang usaha yang dapat dijalankan dengan memanfaatkan sumber daya lokal.

Melalui kegiatan ini, peserta diperkenalkan pada pengolahan ikan tongkol menjadi eungkoet keumamah. Produk tersebut merupakan salah satu olahan ikan yang dikenal dalam tradisi kuliner Aceh. Pengembangan produk lokal seperti ini diharapkan dapat menjadi alternatif usaha rumah tangga sekaligus memperkuat identitas kuliner daerah.

Pengolahan dan Pengemasan Tingkatkan Nilai Jual Produk

Salah satu tujuan utama pelatihan adalah meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menghasilkan produk olahan yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Ikan tongkol yang sebelumnya dijual mentah dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku produk yang memiliki nilai tambah melalui proses pengolahan dan pengemasan.

Selain keterampilan mengolah ikan, masyarakat juga didorong untuk memahami pentingnya pengemasan produk. Kemasan yang layak dan menarik dapat membantu menjaga kualitas produk sekaligus meningkatkan daya tarik konsumen.

Aspek pemasaran juga menjadi perhatian dalam kegiatan pengabdian tersebut. Masyarakat diperkenalkan pada peluang pemasaran secara langsung atau offline maupun melalui media digital atau online. Kedua cara tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperluas jangkauan pemasaran dan mempermudah distribusi produk.

Dengan bekal keterampilan tersebut, ibu rumah tangga diharapkan tidak hanya mampu menghasilkan produk untuk konsumsi keluarga, tetapi juga memiliki peluang mengembangkan usaha secara mandiri.

Pelaksanaan pelatihan ini menjadi bagian dari kontribusi perguruan tinggi dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya bidang pengabdian kepada masyarakat. Melalui kegiatan tersebut, tim pengabdian berupaya menerapkan pengetahuan dan keterampilan agar dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan keterampilan peserta dalam memanfaatkan sumber daya alam di sekitar mereka. Ibu rumah tangga yang mengikuti pelatihan memperoleh pengalaman baru dalam mengolah ikan tongkol menjadi produk eungkoet keumamah.

Antusiasme masyarakat juga terlihat dari keinginan peserta untuk mengembangkan kegiatan kewirausahaan. Mereka mulai melihat bahwa hasil laut yang tersedia di lingkungan sendiri dapat menjadi peluang usaha apabila diolah secara kreatif dan dikelola dengan baik.

Pengembangan usaha berbasis hasil perikanan diharapkan dapat membantu meningkatkan pendapatan keluarga. Selain itu, kegiatan tersebut berpotensi membuka kesempatan ekonomi baru bagi masyarakat dan mendorong pemanfaatan hasil tangkapan nelayan secara lebih optimal.

Masyarakat Harapkan Pelatihan Produk Olahan Ikan Berlanjut

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini mendapat respons positif dari warga Gampong Gugop. Tim pengabdian berharap pelatihan serupa dapat dilaksanakan kembali dengan materi pengolahan hasil laut lainnya sesuai potensi daerah.

Salah satu kebutuhan yang disampaikan masyarakat adalah pelatihan pembuatan kerupuk berbahan dasar ikan. Produk tersebut dinilai berpotensi dikembangkan dengan memanfaatkan hasil tangkapan nelayan yang tersedia di Pulo Aceh.

Tim pengabdian menyambut baik harapan tersebut dan berharap kegiatan lanjutan dapat memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat. Pendampingan yang berkelanjutan diperlukan agar keterampilan yang diperoleh melalui pelatihan dapat berkembang menjadi kegiatan usaha produktif.

Tim juga menyampaikan terima kasih kepada Keuchik dan perangkat Gampong Gugop, masyarakat, serta para mitra yang telah mendukung pelaksanaan kegiatan. Apresiasi turut disampaikan kepada Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Abulyatama, mahasiswa, dan seluruh pihak yang terlibat.

Melalui pelatihan pengolahan ikan tongkol menjadi eungkoet keumamah, potensi hasil laut Pulo Aceh diharapkan dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Dengan keterampilan, kreativitas, dan dukungan pemasaran, produk olahan lokal berpeluang menjadi salah satu penggerak ekonomi keluarga sekaligus memperkuat pemanfaatan sumber daya perikanan secara berkelanjutan.

P2MKP Terima Praktikum Mahasiswa Akuakultur Amphibi

Pengelola Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP) Amphibi Padanglancat, Marihot Anton Sihombing, menerima kunjungan mahasiswa Program Studi Akuakultur Sekolah Tinggi Perikanan Matauli untuk melaksanakan praktikum lapangan. Kegiatan yang berlangsung baru-baru ini tersebut menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman langsung mengenai kegiatan budidaya perikanan.

Praktikum lapangan ini disambut antusias oleh pengelola P2MKP maupun para mahasiswa. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa diharapkan dapat memperluas pengetahuan, meningkatkan keterampilan teknis, serta memahami penerapan ilmu akuakultur yang telah dipelajari selama perkuliahan.

Baca Selengkapnya : Melatih Ibu Rumah Tangga di Pulo Aceh P2MKP Ikan Tongkol

P2MKP Amphibi Padanglancat Dukung Pembelajaran Praktis Mahasiswa

Marihot Anton Sihombing selaku pengelola P2MKP Amphibi Padanglancat menyambut baik kedatangan mahasiswa Sekolah Tinggi Perikanan Matauli. P2MKP terima praktikum mahasiswa ini dapat memberikan pengalaman belajar yang bermanfaat sekaligus mempererat hubungan antara lembaga pendidikan dan pelaku usaha di sektor perikanan.

Menurut Marihot, pembelajaran secara langsung di lapangan memiliki peran penting dalam membantu mahasiswa memahami proses budidaya perikanan. Dengan melihat dan terlibat langsung dalam kegiatan operasional, mahasiswa dapat memperoleh gambaran yang lebih menyeluruh mengenai praktik akuakultur.

“Kami ingin memastikan mahasiswa mendapatkan pemahaman langsung tentang praktik akuakultur yang berkelanjutan,” ujarnya.

Ia juga berharap kegiatan semacam ini dapat menjadi sarana pertukaran pengetahuan antara pengelola P2MKP dan lingkungan akademik. Kolaborasi tersebut dinilai penting untuk mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia di bidang kelautan dan perikanan.

Selama praktikum berlangsung, mahasiswa diperkenalkan dengan berbagai aspek kegiatan akuakultur. Materi yang dipelajari mencakup proses budidaya ikan, pengelolaan lingkungan perairan, hingga kegiatan teknis yang mendukung keberhasilan usaha budidaya.

P2MKP Amphibi Padanglancat memiliki sejumlah fasilitas pendukung kegiatan pelatihan, di antaranya kolam budidaya dan hatchery atau fasilitas pembenihan dalam ruangan. Keberadaan fasilitas tersebut memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengenal tahapan kegiatan perikanan secara lebih dekat.

Mahasiswa Pelajari Berbagai Tahapan Budidaya Ikan

Selain memperoleh penjelasan dari pengelola, mahasiswa juga berkesempatan mengamati aktivitas budidaya secara langsung. Mereka mengikuti sejumlah kegiatan lapangan, seperti pemberian pakan ikan dan pemantauan kualitas air.

Kegiatan tersebut membantu mahasiswa memahami bahwa keberhasilan budidaya tidak hanya ditentukan oleh proses pemeliharaan ikan. Pengelolaan kualitas air, pemberian pakan yang tepat, serta pemantauan kondisi lingkungan perairan juga menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan dan pertumbuhan ikan.

Melalui praktik tersebut, mahasiswa dapat menghubungkan teori yang diperoleh di bangku kuliah dengan kondisi nyata di lapangan. Pengalaman ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman sekaligus keterampilan mereka dalam menghadapi berbagai situasi selama menjalankan kegiatan budidaya.

Selain mempelajari kegiatan teknis budidaya, mahasiswa juga mendapatkan tambahan wawasan mengenai inovasi dalam bidang akuakultur. Pembahasan mencakup pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi kegiatan perikanan.

Pengenalan inovasi tersebut menjadi bagian penting dalam mempersiapkan mahasiswa menghadapi perkembangan sektor perikanan. Penerapan teknologi dan pengelolaan yang tepat dapat membantu pelaku usaha meningkatkan efektivitas kegiatan budidaya sekaligus memperhatikan keberlanjutan lingkungan.

Mahasiswa juga memperoleh gambaran mengenai tantangan dan peluang dalam pengembangan usaha akuakultur. Dengan demikian, praktikum tidak hanya memberikan pengetahuan teknis, tetapi juga memperluas wawasan mengenai kebutuhan dan perkembangan dunia usaha perikanan.

Perkuat Kerja Sama Dunia Pendidikan dan P2MKP

Praktikum lapangan ini sekaligus menjadi momentum untuk mempererat kerja sama antara P2MKP Amphibi Padanglancat dan Sekolah Tinggi Perikanan Matauli. Sinergi antara lembaga pelatihan dan institusi pendidikan diharapkan dapat membuka lebih banyak kesempatan pembelajaran berbasis praktik bagi mahasiswa.

Marihot Anton Sihombing berharap kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara berkelanjutan. Menurutnya, keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan lapangan menjadi salah satu upaya untuk mendukung lahirnya sumber daya manusia yang memiliki kompetensi dan kesiapan kerja di bidang akuakultur.

Pada akhir kegiatan, mahasiswa bersama pengelola P2MKP mengadakan sesi diskusi dan evaluasi. Dalam kesempatan tersebut, kedua pihak berbagi pengalaman serta menyampaikan hal-hal yang diperoleh selama praktikum berlangsung.

Salah seorang mahasiswa menyampaikan apresiasi atas kesempatan belajar yang diberikan oleh P2MKP Amphibi Padanglancat. Pengalaman tersebut dinilai berharga karena memberikan gambaran nyata mengenai aktivitas budidaya perikanan dan menjadi bekal untuk menghadapi dunia kerja setelah menyelesaikan pendidikan.

“Kami berterima kasih kepada P2MKP atas kesempatan yang diberikan. Ini menjadi pengalaman berharga bagi kami untuk menghadapi dunia kerja di masa depan,” ungkapnya.

Kegiatan praktikum lapangan ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi mahasiswa sekaligus memperkuat hubungan antara dunia pendidikan dan sektor usaha perikanan. Melalui pembelajaran langsung, pertukaran pengetahuan, dan pengenalan inovasi, pengembangan kompetensi sumber daya manusia akuakultur diharapkan dapat terus meningkat.

Pemprov Jateng Dukung Pemberdayaan Masyarakat P2MKP

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menunjukkan komitmennya dalam mendukung pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan sektor kelautan dan perikanan. Salah satu upaya tersebut terlihat dalam kunjungan Penjabat (Pj) Gubernur Jawa Tengah. Komjen Pol (P) Drs. Nana Sudjana, A.S., M.M., bersama rombongan Komisi IV DPR RI ke Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP) Alang-Alang. Tumbuh Subur di Desa Randusari, Kecamatan Teras, Kabupaten Boyolali, pada Kamis.

P2MKP Alang-Alang Tumbuh Subur yang dikelola oleh Titi Wahyuni tidak hanya menjadi tempat pengolahan ikan lele. Tetapi juga berkembang sebagai pusat pelatihan dan pemberdayaan masyarakat. Usaha yang telah dirintis sejak 2007 tersebut menunjukkan bahwa sektor perikanan. Memiliki potensi untuk membuka peluang ekonomi sekaligus meningkatkan keterampilan masyarakat.

Baca Juga : P2MKP Terima Praktikum Mahasiswa Akuakultur Amphibi

P2MKP Alang-Alang Tumbuh Subur Kembangkan Usaha

Dalam pengelolaan pemberdayaan masyarakat P2MKP Alang-Alang Tumbuh Subur menerapkan kegiatan usaha perikanan dari hulu hingga hilir. Aktivitasnya mencakup budidaya ikan lele, proses produksi dan pengolahan, hingga pemasaran berbagai produk hasil perikanan.

Pengelolaan secara terintegrasi tersebut menjadi salah satu keunggulan usaha karena tidak hanya berfokus pada kegiatan budidaya, tetapi juga memperhatikan proses pengolahan dan nilai tambah produk sebelum dipasarkan kepada konsumen.

Pengolahan Ikan Lele Menjadi Produk Bernilai Ekonomi

Ikan lele yang dihasilkan melalui kegiatan budidaya selanjutnya diolah menjadi berbagai produk dengan kemasan yang lebih menarik dan layak dipasarkan. Proses pengolahan tersebut memberikan nilai tambah terhadap hasil perikanan sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat.

Dalam kesempatan kunjungan tersebut, rombongan memperoleh gambaran mengenai proses pengelolaan usaha, mulai dari kegiatan budidaya hingga pengolahan produk yang siap dipasarkan.

Pengembangan sektor pengolahan ikan seperti ini menjadi salah satu langkah penting untuk meningkatkan nilai ekonomi hasil perikanan. Dengan pengelolaan yang baik, hasil budidaya tidak hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi dapat dikembangkan menjadi produk olahan yang memiliki daya saing.

Pemberdayaan Masyarakat melalui Pelatihan Pengolahan Ikan

Selain menjalankan kegiatan usaha, P2MKP Alang-Alang Tumbuh Subur juga aktif menyelenggarakan pelatihan bagi masyarakat. Program tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan keterampilan dan kemampuan warga dalam mengembangkan usaha berbasis perikanan.

Peserta pelatihan tidak hanya berasal dari masyarakat sekitar Desa Randusari, tetapi juga dari berbagai daerah. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan P2MKP memiliki manfaat yang lebih luas dalam mendukung peningkatan kapasitas sumber daya manusia.

Kolaborasi dengan BAZNAS Jawa Tengah

Dalam pelaksanaan program pemberdayaan, P2MKP Alang-Alang Tumbuh Subur juga telah menjalin kolaborasi dengan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Provinsi Jawa Tengah.

Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui pemberian pelatihan kepada para mustahik agar memiliki keterampilan dalam mengolah hasil perikanan. Melalui kegiatan ini, peserta tidak hanya mendapatkan pengetahuan mengenai pengolahan ikan, tetapi juga memperoleh gambaran mengenai proses produksi, pengemasan, dan pemasaran produk.

Pemberdayaan melalui pelatihan diharapkan dapat menjadi bekal bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha secara mandiri dan meningkatkan potensi ekonomi keluarga.

Pemprov Jateng Siap Koordinasikan Dukungan Pengembangan Usaha

Dalam kunjungan tersebut, Pj Gubernur Jawa Tengah menyampaikan perhatian terhadap pengembangan usaha dan berbagai kebutuhan yang dihadapi pengelola P2MKP Alang-Alang Tumbuh Subur.

Pihaknya menyatakan komitmen untuk membantu menindaklanjuti kebutuhan tersebut melalui koordinasi terlebih dahulu dengan Dinas Kelautan dan Perikanan. Langkah koordinasi diperlukan agar bentuk dukungan yang diberikan dapat disesuaikan dengan kebutuhan serta kewenangan instansi terkait.

Dukungan pemerintah daerah diharapkan dapat membantu keberlanjutan usaha sekaligus memperkuat peran P2MKP dalam mengembangkan sektor perikanan dan pemberdayaan masyarakat.

P2MKP Menjadi Penggerak Ekonomi dan Kemandirian Masyarakat

Keberadaan P2MKP Alang-Alang Tumbuh Subur memperlihatkan bahwa usaha perikanan dapat memberikan manfaat yang lebih luas apabila dikembangkan bersama program pelatihan dan pemberdayaan masyarakat.

Usaha yang dirintis sejak 2007 tersebut diharapkan terus berkembang, baik dari sisi produksi, pengolahan, pemasaran, maupun jangkauan pelatihan. Dengan demikian, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh pengelola usaha, tetapi juga masyarakat yang memperoleh kesempatan meningkatkan keterampilan dan mengembangkan potensi ekonomi.

Melalui perhatian dan komitmen Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, pengembangan P2MKP diharapkan semakin optimal. Sinergi antara pemerintah, pengelola usaha, dan masyarakat menjadi bagian penting dalam membangun sektor perikanan yang produktif, mandiri, dan berkelanjutan.

Pada akhirnya, pemberdayaan masyarakat melalui sektor perikanan bukan hanya tentang menghasilkan produk, tetapi juga menciptakan keterampilan, membuka peluang usaha, dan membangun kemandirian ekonomi masyarakat.