BANYUWANGI – Kabupaten Banyuwangi memiliki potensi besar dalam sektor perikanan air tawar. Salah satunya adalah budidaya ikan lele di Desa Tembok Rejo, Kecamatan Muncar. Menariknya, hasil budidaya lele dari wilayah tersebut mampu memasok hingga 2,5 ton ikan siap konsumsi ke Pulau Bali setiap minggu.

Potensi budidaya ikan lele Banyuwangi ini dikembangkan melalui Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP) Raja Lele. Pusat budidaya tersebut dirintis oleh Mohammad Samsul Arifin sejak 2004. Berawal dari usaha budidaya ikan air tawar, Raja Lele kini berkembang menjadi salah satu pemasok lele untuk sejumlah daerah.

Informasi Lebih Lanjut : P2MKP Biofloc 165 Food & Fisheries Buka Pelatihan Budidaya

Budidaya Lele Banyuwangi Memiliki 36 Kolam

P2MKP Banyuwangi menjadi Raja Lele berdiri di atas lahan seluas 1.200 meter persegi. Dari total luas lahan tersebut, sekitar 600 meter persegi dimanfaatkan sebagai area kolam budidaya. Saat ini, terdapat 36 kolam yang digunakan untuk mendukung proses pembibitan hingga pembesaran ikan lele.

Fasilitas tersebut juga menjadi tempat belajar bagi para petani dan nelayan yang ingin mengembangkan usaha perikanan air tawar. Dengan demikian, keberadaan P2MKP Raja Lele tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga mendukung peningkatan keterampilan masyarakat di bidang budidaya perikanan.

Menurut Samsul, seluruh kolam memiliki kapasitas sekitar 200 ribu benih dalam satu kali penebaran. Proses pembibitan hingga pembesaran membutuhkan waktu kurang lebih tiga bulan sebelum ikan siap dipanen.

“Kolam-kolam ini berkapasitas sekitar 200 ribu benih sekali tebar, di mana proses pembibitan dan pembesarannya memakan waktu tiga bulan,” jelas Samsul.

Pasok 2,5 Ton Lele ke Bali Setiap Minggu

Dari kapasitas produksi tersebut, P2MKP Raja Lele mampu mengirimkan sekitar 2,5 ton lele siap konsumsi ke Bali setiap minggu. Pasokan ini menjadi bukti bahwa hasil budidaya perikanan dari Banyuwangi memiliki peluang pasar yang cukup luas.

Untuk menjaga kualitas dan keseragaman ukuran ikan, para petani melakukan proses grading secara berkala. Kegiatan tersebut dilakukan setiap setengah bulan sekali dengan cara memisahkan ikan berdasarkan ukuran tubuhnya.

Proses grading memiliki peran penting dalam menjaga pertumbuhan ikan lele. Sebab, benih yang awalnya memiliki ukuran relatif sama dapat berkembang dengan kecepatan berbeda. Jika tidak dipisahkan, ikan berukuran lebih besar berpotensi memangsa ikan yang lebih kecil atau mengalami kanibalisme.

Setelah mencapai ukuran yang sesuai dengan permintaan pasar, ikan lele kemudian dipanen secara bertahap. Hasil panen selanjutnya dijual kepada pengepul berdasarkan ukuran dan kebutuhan konsumen.

Pasar Lele Banyuwangi Menjangkau Sejumlah Daerah

Pemasaran hasil budidaya P2MKP Raja Lele tidak hanya menyasar konsumen lokal. Produk perikanan tersebut juga dipasarkan ke sejumlah daerah di Jawa Timur dan Bali, seperti Gresik, Lamongan, serta Pulau Bali.

Namun, jenis produk yang dipasarkan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing daerah. Untuk pasar Bali, Samsul memasok lele ukuran konsumsi yang siap diolah menjadi berbagai hidangan. Sementara itu, permintaan dari Gresik dan Lamongan lebih banyak berupa bibit atau benih ikan lele.

Perbedaan ukuran ikan juga memengaruhi jumlah ekor dalam setiap kilogram. Untuk pengiriman ke Bali, satu kilogram lele biasanya berisi sekitar 8–10 ekor. Sementara itu, lele yang dipasarkan secara lokal memiliki ukuran lebih kecil, yakni sekitar 12–13 ekor per kilogram.

Adapun harga lele untuk pasar lokal berkisar Rp13.500 hingga Rp14.000 per kilogram. Harga tersebut menjadi salah satu informasi penting bagi konsumen dan pelaku usaha yang membutuhkan pasokan ikan lele.

Budidaya Lele Jadi Peluang Ekonomi Masyarakat

Keberhasilan P2MKP Raja Lele menunjukkan bahwa budidaya ikan air tawar memiliki prospek menjanjikan di Banyuwangi. Selain mampu memenuhi kebutuhan pasar lokal, usaha ini juga membuka peluang pemasaran antardaerah hingga luar provinsi.

Konsistensi produksi, pengelolaan kolam, serta penerapan grading menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas hasil panen. Di sisi lain, keberadaan pusat pelatihan seperti P2MKP Raja Lele dapat mendorong masyarakat untuk mengembangkan usaha perikanan secara lebih produktif.

Dengan pasokan mencapai 2,5 ton lele setiap minggu ke Bali, budidaya lele di Desa Tembok Rejo, Kecamatan Muncar, menjadi salah satu potensi unggulan perikanan Banyuwangi yang patut terus dikembangkan.