Pemanfaatan seluruh bagian ikan menjadi salah satu peluang untuk mengembangkan usaha pengolahan hasil perikanan. Salah satunya melalui inovasi pembuatan kerupuk tulang ikan lele dengan konsep zero waste process atau pengolahan minim limbah. Inovasi ini tidak hanya menghasilkan produk pangan bernilai tambah, tetapi juga membuka peluang usaha yang layak dikembangkan oleh pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Salah satu usaha yang mengembangkan produk tersebut adalah UMKM Daniel Home Industri. Usaha ini mengolah tulang ikan lele menjadi kerupuk melalui sejumlah tahapan produksi, mulai dari penerimaan bahan baku hingga pengemasan dan penyimpanan produk.

Pengolahan tulang ikan lele menjadi kerupuk merupakan bentuk diversifikasi produk perikanan. Bagian ikan yang berpotensi tidak dimanfaatkan secara optimal dapat diolah menjadi produk baru yang memiliki nilai ekonomi. Dengan demikian, pemanfaatan bahan baku ikan dapat dilakukan secara lebih maksimal.

Pahami Selanjutnya : P2MKP Bisnis Ikan Hias Digitalisasi Bersama NSC UNM

Kerupuk Tulang Ikan Lele Jadi Peluang Usaha Olahan Perikanan

P2MKP kembangan usaha kerupuk tulang Ikan lele dikenal sebagai salah satu komoditas perikanan yang banyak dibudidayakan dan dimanfaatkan sebagai bahan pangan. Dalam proses pengolahan tulang ikan, sering kali belum dimanfaatkan secara maksimal. Padahal, dengan pengolahan yang tepat, bagian tersebut dapat dikembangkan menjadi produk pangan alternatif.

Konsep zero waste process menjadi pendekatan untuk mengurangi bagian bahan baku yang terbuang selama proses produksi. Melalui inovasi kerupuk tulang ikan lele, pelaku usaha dapat menciptakan produk tambahan sekaligus meningkatkan nilai ekonomi dari bahan yang sebelumnya kurang dimanfaatkan.

Pengembangan produk ini juga menunjukkan bahwa usaha pengolahan hasil perikanan tidak harus selalu bergantung pada produk utama. Kreativitas dalam mengolah bagian lain dari ikan dapat menjadi sumber peluang usaha baru. Tahapan Produksi Kerupuk Tulang Ikan Lele.

Berdasarkan hasil observasi pada UMKM Daniel Home Industri, proses pembuatan kerupuk tulang ikan lele terdiri atas beberapa tahapan yang dilakukan secara berurutan. Setiap tahap memiliki peran penting untuk menghasilkan produk yang siap dipasarkan. Pengolahan Bahan Baku dan Pembuatan Adonan.

Proses produksi diawali dengan penerimaan bahan baku, kemudian dilanjutkan dengan pencucian untuk membersihkan tulang ikan lele. Setelah itu, tulang direbus dan dihaluskan sebelum dicampurkan ke dalam adonan.

Tahap pencampuran dilakukan untuk menghasilkan adonan yang dapat dibentuk menjadi kerupuk. Selanjutnya, adonan dicetak dan dikukus agar terbentuk struktur produk sebelum memasuki proses berikutnya. Pemotongan, Penjemuran, dan Pengemasan.

Setelah dikukus, adonan dipotong sesuai bentuk dan ukuran yang diinginkan. Potongan tersebut kemudian dijemur hingga mencapai kondisi yang sesuai untuk proses penggorengan.

Tahap selanjutnya adalah penggorengan, pengemasan, dan penyimpanan. Produk yang telah dikemas kemudian ditata pada tempat display agar lebih mudah diperkenalkan dan ditawarkan kepada konsumen.

Rangkaian proses tersebut memperlihatkan bahwa pengolahan tulang ikan lele membutuhkan tahapan produksi yang terencana. Kebersihan bahan baku, ketepatan proses pengolahan, dan pengemasan menjadi aspek yang perlu diperhatikan untuk menjaga mutu produk.

Analisis Kelayakan Usaha Kerupuk Tulang Ikan Lele

Selain mengamati proses produksi, kajian terhadap UMKM Daniel Home Industri juga dilakukan untuk mengetahui kelayakan usaha kerupuk tulang ikan lele. Analisis ini penting sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan potensi pengembangan usaha.

Penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Analisis data dilakukan melalui analisis finansial dan analisis kelayakan usaha untuk mengetahui gambaran proses pengolahan serta kemampuan usaha menghasilkan keuntungan.

Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai Break Even Point (BEP) unit tercapai apabila produksi mencapai 100 kemasan atau produk per bulan. Sementara itu, BEP rupiah tercapai ketika nilai penjualan mencapai Rp1.704.849,94 per bulan.

Adapun nilai Revenue Cost Ratio (R/C Ratio) tercatat sebesar 2,02. Nilai tersebut menunjukkan bahwa penerimaan usaha lebih besar dibandingkan biaya yang dikeluarkan. Berdasarkan hasil perhitungan tersebut, usaha kerupuk tulang ikan lele di UMKM Daniel Home Industri dinilai layak untuk dikembangkan.

Dorong Inovasi dan Nilai Tambah Produk Perikanan

Pengembangan kerupuk tulang ikan lele memberikan gambaran bahwa inovasi pengolahan dapat menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan nilai tambah hasil perikanan. Pemanfaatan tulang ikan sebagai bahan baku produk olahan juga mendukung penggunaan sumber daya secara lebih optimal.

Selain membuka peluang pendapatan, usaha ini dapat menjadi contoh diversifikasi produk bagi pelaku UMKM di sektor perikanan. Pengembangan usaha tetap perlu didukung pengelolaan produksi, pengendalian mutu, pengemasan, serta pemasaran yang baik.

Melalui pendekatan zero waste process, pengolahan hasil perikanan diharapkan tidak hanya menghasilkan produk bernilai ekonomi, tetapi juga mendorong pemanfaatan bahan baku secara lebih efisien. Kerupuk tulang ikan lele pun berpotensi menjadi salah satu produk unggulan olahan perikanan yang dapat dikembangkan lebih luas.