Mataram – Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP) ASKOT, seakan tiada henti untuk berbagi ilmu. Terutama terkait dengan pengolahan hasil laut seperti ikan dan rumput laut. Kali ini mereka melakukan pembinaan terhadap pengurus pondok pesantren “Keinginan untuk melakukan pembinaan ini pada ponpes, sebenarnya sudah ada sejak awal tahun yang lalu” kata Ketua ASKOT Nunuk Nurhaerani SS saat ditemui Lombok Post kemaren.

Pelatihan ini diikuti oleh 20 orang peserta. Tujuh belas orang diantaranya adalah Pembina pondok pesantren sementara tiga orang adalah mahasiswa Universitas Mataram (Unram). Pondok Pesantren yang diundang terdiri dari ponpes Al-Ziziah Lombok Barat (Lobar), Nurul Haramain Narmada dan Nurul Hakim Kediri.

Materi yang diberikan diantaranya pengolahan nugget dan otak-otak ikan. Selain itu, pembuatan kerupuk rumput laut dengan pewarna alami yaitu jagung dan kangkung. Sehingga peserta dapat menghasilkan makanan sehat dan alami.

Dijelaskan alasan dipilihnya ponpes ini adalah memberdayakan ekonomi sekitar. Lembaga pendidikan agama tersebut juga dirasa memiliki peluang pasar yang cukup besar.

Karena itu produk yang dihasilkan pihak pesantren dapat memberikan pendapatan bagi pesantren juga. “Produk berbasis pijar supaya dihasilkan dari masyarakat pondok pesantren serta memberi pendapatan. Karena untuk minuman saja dalam sehari menghabiskan minimal seratus dus sehari,” tambahnya.

Menurutnya, ponpes memiliki peluang pasar yang lebih besar disbanding masyarakat umum. Harapan mereka turut menjadi mitra ASKOT ingin diwujudkan saat produk ingin dipasarkan ke luar lingkungan pesantren.

“Setelah dilatih, kami harapkan peserta dapat berinovasi, terlebih mampu membuat produk olahan dengan bahan baku yang banyak dihasilkan oleh lingkungan sekitar,” harapnya. Pihak pesantren juga merasa terhormat dan terbantu ketika menerima undangan binaan ASKOT. Tidak hanya mendapat tambahan ilmu, tapi juga mampu membagikan ilmu tersebut kepada para santri.

“Melalui pembinaan ini, kita juga ingin membaginya pada alumni. Sehingga memberikan peluang lapangan pekerjaan bagi mereka,” ungkap Pembina ponpes Nurul Haramain Narmada, Endang Syahrini. Pembina Ponpes Nurul Hakim Kediri menambahkan, tidak hanya menggerakkan ekonomi di dalam pondok pesantren tapi juga promosi keluar. Sebab pengenalan produk ke luar lingkungan pesantren melalui wali santri.

Disisi lain, ASKOT sendiri telah memenangkan penghargaan gugus kendali mutu dari Kementerian Perindustrian. Sebagai juara satu, P2MKP ini berhak mewakili NTB dalan Konfensi Nasional Gugus Kendali Mutu. Dimana konvensi ini berlangsung di Jogyakarta November mendatang.

SUMBER : Lombok Post, Kamis 12 September 2013

Silahkan isi komentar anda di bawah ini :

komentar