(Jum’at,15/03/13) Attahdzib.Org – Hari ini  tampak berbeda dari biasanya, dipagi hari yang bisanya tak begitu rame kini terlihat beberapa santri mengikuti Pelatihan Ikan Patin, mereka terlihat khidmah mengikuti acara yang diselenggarakan oleh Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP) Attahdzib bekerjasama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia. Acara yang dilaksanakan pada tanggal 15-18 Maret 2013 ini diikuti oleh 20 peserta dari Pesantren Attahdzib dan beberapa warga sekitar.

Dalam acara tersebut. Ali Mahruzi, selaku Panitia mengutarakan bahwa “Acara semacam ini sebelumnya juga pernah diikuti oleh beberapa santri Attahdzib, hanya saja kali ini pesertanya berbeda dengan sebelumnya, disamping pesertanya baru, materinya juga baru,” tukas beliau yang biasa disapa Gus Ali ini. Beliau lantas melanjutkan ; “Bahkan kita juga pernah mengirimkan beberapa santri ke Bogor, Bandung dan beberapa kota di Jawa Barat untuk mengikuti pelatihan serupa,” imbuhnya.

Pada kesempatan yang sama, KH. Ahmad Masruh IM. (Pengasuh Pesantren Attahdzib) dalam sambutannya, beliau menyampaikan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia yang dalam hal ini diwakili oleh saudara Nur Hasan, utusan dari Balai Pendidikan dan Pelatihan Perikanan (BP3) Banyuwangi. “Kami sampaikan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia yang telah membantu kami. Bantuan semacam ini juga pernah diterima beberapa pesantren di Jawa Timur,” tutur beliau tanpa menyebutkan bantuan apa yang dimaksud. “Ya semoga saja pak menteri dan stafnya yang membatu kami, dicatat sebagai amal ibadah dan dibalas oleh Alloh SWT, dan segera dinaikkan pangkatnya,” imbuh beliau dengan sedikit humornya.

Beliau lantas berpesan kepada peserta yang sebagian besar santri ini. “Saya harap para santri setelah mengikuti pelatihan ini segera mengamalkan ilmu yang telah diterima, dan supaya ditular – tularkan kepada yang lain”. Selanjutknya beliau berharap, para santri sepulang dari pesantren (jawa: boyong) untuk menularkan kepada masyarakat di daerahnya masing-masing. “Jangan hanya berfikir untuk menjadi kaya, tapi berfikir bagaimana bisa menjadikan orang lain jadi kaya. Karena sebaik-baik manusia adalah yang bisa bermanfaat bagi orang lain,” tutur beliau dengan mengutip hadist Nabi خير الناس أنفعهم للناس. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat (diantaranya bisa menjadikan orang lain kaya).

Selebihnya beliau mengungkapkan beberapa prospek kedepan tentang usaha budidaya ikan patin. “Bila saat ini banyak warung pecel lele, gurameh, mujahir dan sejenisnya, mungkin saja besok akan ada pecel patin. Disamping pembenihan dan budidayanya lebih mudah, dagingnya juga lebih enak dibanding lele dan sejenisnya,” ujar beliau. Beliau menuturkan : “Desa Rejoagung dulu pernah menjadi juara nasional bidang ikan lele, dan semoga saja selanjutnya bisa juara bidang ikan patin” tukas beliau.

Untuk diketahui, budidaya ikan patin merupakan salah satu usaha yang bisa dibilang “menjanjikan” pada tahun-tahun berikutnya, mengingat animo masyarakat yang mulai menggemari ikan mirip lele tersebut. Hal ini bisa dilihat dari cukup tingginya volume impor ikan patin yang hampir 100.000 ton pertahunnya. Untuk mengatasi hal tersebut, Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia berupaya menghentikan impor ikan patin dari Vietnam dan Thailand. Sebagai gantinya, ikan patin akan didatangkan dari daerah-daerah penghasil ikan (Kompas, 20 Agustus 2011).   Dengan adanya bantuan dan pelatihan ikan patin ini, Pesantren Attahdzib bersiap menjadi mitra kerja pemerintah untuk memasok kebutuhan ikan patin. (mah)

Sumber : http://attahdzib.org/read/article/20/attahdzib-pa-siap-budidaya-ikan-patin-1364482438

Silahkan isi komentar anda di bawah ini :

komentar