Bila Anda peminat gorengan, Anda patut mencoba bakwan ikan dan keong mas. Camilan sehat, lagi bergizi.

Bakwan begitu akrab di telinga masyarakat. Inilah yang membuat Ahmad Sudarsono, S. Pi, Direktur PT ASA Nusantara, produsen produk olahan perikanan, terpikirkan membuat jenis bakwan “baru” siap konsumsi. “Bakwan sudah melekat di hati konsumen. Hampir semua orang suka bakwan dari anak kecil sampai dewasa, dari orang kaya sampai orang miskin,” terangnya.

Selain bakwan baru, pengusaha muda ini menciptakan keong mas sebagai alternatif makanan bergizi. Nama keong mas tercetus karena keprihatinannya terhadap persepsi keong mas sebagai hewan tidak berharga. Ia ingin mengubah cap negatif tersebut menjadi keong mas itu enak. Tambahan lagi, nama keong mas akrab di benak masyarakat sehingga mudah memasarkannya.

Mudah Dibuat

Membuat bakwan ikan, menurut alumnus Teknologi Hasil Perikanan IPB ini, semudah membuat bakwan lainnya. Bedanya, bakwan ikan menggunakan tambahan ikan kakap atau marlin dan telur. Bahan lainnya berupa tepung terigu, wortel, dan daun seledri. “Komposisinya 60% ikan, sisanya (bahan lain) 40%,” ujar Ahmad.

Semua bahan dicampur menjadi satu dan ditambahkan bumbu. Bahan dibuat adonan dengan air hingga merata. Lalu, bahan dibentuk menjadi bulat panjang seperti lontong berdiameter 10 cm, kemudian dikukus. Setelah itu, bakwan kukus siap goreng dikemas dengan kantong kedap udara dan dibekukan.

Pembuatan keong mas pun tak kalah gampang. Bahan bakunya daging ikan giling atau daging ikan yang sudah dihaluskan. Ikan yang dipilih berupa ikan kakap atau marlin. Jadi, “Bahan (baku) sebenarnya bukan dari keong mas (hama pengganggu tanaman padi). Bentuknya saja dibuat menyerupai keong,” terang pria kelahiran Pandeglang 13 April 1984 ini.

Daging ikan giling dicampur dengan tepung terigu, telur, bumbu, dan air hingga merata. Perbandingan ikan dan bahan lainnya sebanyak 60%:40%. Adonan keong mas yang sudah jadi dibungkus dengan kulit tahu. Lalu, adonan dibentuk mirip keong. Keong mas pun dikukus hingga matang, dibungkus dengan kantong kedap udara, dan dibekukan. Keong mas dan bakwan ikan yang telah dibekukan siap dipasarkan.

Meskipun tidak menggunakan bahan pengawet, bakwan ikan dan keong mas tahan hingga 6 bulan bila disimpan dalam lemari es. Rahasianya, “Pengawet yang dipakai berasal dari bumbu rempah untuk mengolah ikan,” tutur Ahmad. Selain rasanya enak dan bergizi, produk buatannya digemari masyarakat karena tidak mengandung vetsin dan zat pewarna kimia.

Siasati dengan substitusi

Kontinuitas suplai bahan baku adalah penentu utama keberlangsungan usaha olahan ikan. Untuk itu perlu strategi pemenuhan bahan baku. Ahmad menyiasati hal ini dengan substitusi ikan kakap dan marlin. “Ikan ini ditangkap pada musim berbeda sehingga saling bersubstitusi untuk mengatasi kendala ketersediaan bahan baku,” katanya. Selain itu, kedua jenis ikan mempunyai daging tebal berwarna putih dan kandungan proteinnya lebih tinggi daripada daging merah serta mudah dicerna.

Awalnya, hanya 100—125 kemasan per bulan bakwan ikan dan keong mas yang berhasil terjual. Kini pasarnya meningkat menjadi 600 kemasan per bulan. Bila harga produknya Rp23.000 per kemasan, Ahmad meraup omzet sebanyak Rp13,8 juta per bulan. Saat ini, bakwan ikan dan keong mas bisa ditemui di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, juga kota-kota di Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Sulsel.

Untuk pemasaran produk, suami dari Indah Kurnianingsih, SIP ini mengikutsertakan produknya dalam ajang pameran, membuka agen berbagai daerah, menyuplai bahan baku katering, membuka kedai waralaba, dan pemasaran langsung dari pintu ke pintu.

Sebagai penajaman target pasar, Ahmad menentukan tiga sasaran konsumen, yaitu kelas atas, kelas menengah, dan kelas bawah. Menurutnya, kelas atas daya belinya sangat tinggi baik serapan produk dan harga tetapi pasarnya terbatas, sedangkan kelas menengah harga yang mampu dibayarkan seimbang dengan kualitas produk tetapi banyak tawar menawar. Sementara itu, lanjutnya, kelas bawah merupakan pasar yang besar, tidak terlalu bermasalah dengan produk asalkan harga sesuai kantong. “Kelemahannya karena luas (pasarnya), permintaan banyak, kadang kita nggak bisa stok,” urai Ahmad.

Bila Anda mempunyai inovasi baru di bidang produk olahan perikanan, tak perlu ragu menuangkannya ke pasar. Karena, menurut Ahmad, permintaan produk olahan perikanan untuk pasar Jabodetabek saja mencapai 80 ton per bulan (setara 160 ribu kemasan). “Tetapi, pasokan yang ada saat ini belum bisa memenuhi,” sarannya. Jadi, tunggu apa lagi?

Windi Listianingsih (Tabloid Agrina)

 NO KONTAK AHMAD SUDARSONO, S.Pi 081807490657

Silahkan isi komentar anda di bawah ini :

komentar