Dalam mewujudkan Visi Kementerian Kelautan dan Perikanan “Pembangunan kelautan dan perikanan yang Berdaya saing dan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat”, Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan berperan secara aktif melalui kegiatan peningkatan kemampuan profesionalisme sumber daya manusia kelautan dan perikanan yang ditempuh antara lain melalui pelatihan baik yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun masyarakat. Pelatihan yang diselenggarakan oleh masyarakat pada umumnya dilakukan secara mandiri oleh pelaku utama di bidang kelautan dan perikanan. Peserta pelatihan berlatih di tempat pelaku utama yang sekaligus bertindak sebagai pelatih, dan usahanya menjadi obyek kegiatan berlatih.

Sejalan dengan kemajuan pembangunan kelautan dan perikanan, pelaku utama tersebut berinisiatif untuk mendirikan lembaga pelatihan dari, oleh dan untuk masyarakat. Seiring dengan hal tersebut, kegiatan pelatihan tidak lagi dikelola oleh pelaku utama secara perorangan melainkan oleh lembaga pelatihan tersebut. Menyadari meluasnya pembentukan lembaga pelatihan tersebut yang diberi nama berbeda-beda, maka untuk memudahkan koordinasi dan pembinaannya, Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan mengelompokkan lembaga pelatihan tersebut kedalam Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan. Mengacu pada Rencana Strategis Kementerian Kelautan dan Perikanan 2010-2014, untuk mencapai target pemenuhan tenaga terlatih di bidang kelautan dan perikanan sebanyak 47.000 orang, yang dicapai melalui penyelenggaraan pelatihan bagi masyarakat, dibutuhkan adanya pelatihan di bidang kelautan dan perikanan yang efisien dan efektif serta berkualitas.

Untuk mencapai efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pelatihan dibidang kelautan dan perikanan bagi masyarakat, diperlukan adanya partisipasi aktif masyarakat dalam penyelenggaraan pelatihan melalui lembaga pelatihan yang dibentuk dari, oleh, dan untuk masyarakat secara mandiri atau P2MKP dimaksud. Berdasarkan pertimbangan tersebut, ditetapkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER.01/MEN/2011 tentang Pembentukan dan Pengembangan Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan.

Kegiatan Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP) dilaksanakan pada tanggal 10 – 17 Juni 2013 bertempat di Sanggar Pokdakan Minapolitan Jaya milik Bapak Marthen Lengkong Tuwaidan di Desa Dimembe, Kecamatan Dimembe, Kabupaten Minahasa Utara. Kegiatan P2MKP ini dibagi menjadi 4 angkatan. Angkatan I dan II dijadwalkan selama 4 hari yaitu dari tanggal 10 – 13 Juni 2013, sedangkan angkatan III dan IV dijadwalkan pada tanggal 14 – 17 Juni 2013. Kegiatan P2MKP dimulai setiap harinya dari jam 08.00 WITA sampai 16.00 WITA. Kegiatan ini dihadiri oleh Supervisor, instruktur/ fasilitator dan tamu undangan, antara lain Kepala BP3 Aertembaga Bitung Bapak Pola S.T Panjaitan, A.Pi, MM; Kepala Dinas KP Kabupaten Minahasa Utara Ir. Arie Kambong, M.Si, Supervisor Ibu Diane O.M Luntungan dan Bapak Moch. Abdul Chalim, A.Md, Instruktur Drs. Hengky Wantania, Fasilitator Drs. Franky Koluod serta Penyuluh Perikanan dari BBAT Tatelu Ni Putu Dian Kusuma, S.St.Pi dan Habil Rahmadani.

Peserta yang hadir dalam kegiatan P2MKP ini sebanyak 40 (empat puluh) orang pembudidaya ikan air tawar (pelaku utama) yang berasal dari Kabupaten Minahasa Utara. Peserta berasal dari Pembudidaya Ikan Desa Dimembe 6 (enam) orang, Pembudidaya Ikan Desa Tatelu 2 (dua) orang, Pembudidaya Ikan Desa Warukapas 2 (dua) orang, Pembudidaya Ikan hasil rekomendasi Dinas Perikanan 10 (sepuluh) orang, Pembudidaya Ikan Desa Airmadidi 2 (dua) orang, Pembudidaya Ikan Desa Sawangan 2 (dua) orang, Pembudidaya Ikan Desa Laikit 4 (empat) orang, Pembudidaya Ikan Desa Matungkas 2 (dua) orang, Pembudidaya Ikan Desa Mapanget 6 (enam) orang, Pembudidaya Ikan Desa Sukur 2 (dua) orang dan Pembudidaya Ikan Desa Pinilih 2 (dua) orang.

Pembuka acara sekaligus Fasilitator dalam kegiatan ini disampaikan oleh Drs. Franky Koluod. Dalam pembicaraannya, Fasilitator menyampaikan tema kegiatan P2MKP yang sedang dilaksanakan, yaitu “Pembesaran Ikan Nila (Oreochromis niloticus) di Kolam Tanah”. Keberhasilan kegiatan ini tergantung dari pembawaan materi dan niat yang serius dari para pembudidaya untuk belajar bersama terkait usaha pembesaran ikan nila.

Berikutnya pemaparan materi disampaikan oleh Kepala BP3 Aertembaga Bitung Bapak Pola S.T Panjaitan, A.Pi, MM. Dalam pemaparannya Kepala BP3 menyampaikan beberapa fungsi Balai Pendidikan dan Pelatihan Aertembaga Bitung, yaitu pelaksanaan kerjasama pelatihan dan permagangan di bidang kelautan dan perikanan, dan penyelenggaraan pelatihan aparatur dan non aparatur di bidang kelautan dan perikanan. Lembaga pelatihan dapat juga diselenggarakan oleh Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP) yang merupakan lembaga pelatihan di bidang kelautan dan perikanan yang dibentuk dan dikelola oleh pelaku utama maju di bidang kelautan dan perikanan baik perorangan maupun kelompok. P2MKP merupakan mitra kerja sama Pusat Pelatihan Kelautan dan Perikanan BPSDMKP. Pembentukan dan pengembangan P2MKP sangat di dorong dan didukung oleh Pusat Pelatihan Kelautan dan Perikanan hal ini dikarenakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) pelatihan lingkup Badan Pengembangan SDMKP yang ada sebanyak 6 unit yang ada di Medan, Subang, Tegal, Banyuwangi, Bitung, dan Ambon belum sebanding dengan jumlah pelaku utama yang harus dilatih, sehingga perlu adanya partisipasi dan keswadayaan masyarakat untuk ikut mengembangkan SDM melalui pelatihan dari, oleh dan untuk masyarakat.

Pembicara kedua yaitu Supervisor kegiatan P2MKP yang ditugaskan dari BP3 Aertembaga Bitung Ibu Diane O.M Luntungan dan Bapak Moch. Abdul Chalim, A.Md. Dalam paparannya Supervisor menjelaskan terkait tahapan kegiatan yang akan dilaksanakan selama pelatihan dan beberapa peraturan yang harus disepakati dan diikuti oleh para peserta P2MKP yang meluputi disiplin waktu dan kerja di lapangan. Supervisor akan mengamati dan mengawasi tahapan kegiatan serta tanggapan peserta terhadap materi yang dibawakan selama P2MKP berlangsung. Kegiatan lapangan yang akan dilakukan yaitu persiapan kolam dan menjahit Kerangkeng/ Tagaho/ Waring.

Pembicara selanjutnya yaitu Penyuluh Perikanan dari BBAT Tatelu Ni Putu Dian Kusuma, S.St.Pi dan Habil Rahmadani. Penyuluh menyampaikan beberapa fungsi dari BBAT Tatelu untuk menjamin ketersediaan induk dan benih serta meningkatkan keterampilan pelaku utama melalui kegiatan pelatihan budidaya dan kegiatan diseminasi, demonstrasi dan penyebaran teknologi informasi di Indonesia Timur. Selain itu, dijelaskan bahwa Pusat Penyuluhan dalam hal ini mendukung kegiatan pendidikan dan pelatihan bagi pelaku utama dan pelaku usaha di wilayah Indonesia Timur, khususnya di Sulawesi Utara. Penyuluh Perikanan dibutuhkan dalam melakukan pendampingan terhadap program KKP. Penyuluh juga memiliki tugas untuk mendampingi pelaku utama (pokdakan) dan pelaku usaha dalam setiap kegiatan perikanan yang dilakukan, khususnya untuk Kabupaten Minahasa Utara adalah Budidaya ikan air tawar di Kecamatan Dimembe dan KJA di Danau Tondano, Kabupaten Minahasa Induk serta industri rumput laut di Kecamatan Likupang.

Dalam rangkaian kegiatan P2MKP, penyuluh perikanan ikut serta sebagai pemberi materi tambahan terkait usaha budidaya ikan nila khususnya tahap pembesaran. Dimulai dari persiapan lahan, manajemen benih, manajemen pakan, manajemen kualitas air, teknik pemanenan serta pencegahan dan penanggulangan hama dan penyakit ikan. Selain itu penyuluh juga mengsosialisasikan penggunaan Vaksin “Caprivac Aero-L” sebagai upaya pencegahan terhadap penyakit yang disebabkan oleh Bakteri Aeromonas hydrophyilla.

Dibuka sesi tanya jawab/diskusi antara peserta, penyuluh dan narasumber. Penanya dalam kesempatan ini sebanyak 5 (lima) orang, yaitu Bapak Moses Tangka (Desa Laikit), Bapak Frans Manua (Desa Laikit), Bapak Veky Ratag (Desa Mapanget), Bapak Jontje Pajouw (Desa Dimembe), dan Bapak Ryandi Sampelan (Desa Werot) yang mempertanyakan permasalahan sulitnya memperoleh benih ikan, kurangnya modal usaha, pemasaran hasil yang terbatas, cara membedakan benih ikan berkualitas dan yang sudah tua (benih afkir), dan masalah ikan nila ukuran konsumsi yang terserang penyakit.

Semua pertanyaan dan masukan dapat ditanggapi dan dijawab dengan baik oleh para narasumber. Instruktur/ Fasilitator memberikan tanggapan yang dapat terangkum antara lain untuk masalah perolehan benih ikan dapat ditanggulangi dengan upaya kerjasama dengan pembudidaya yang khusus menjalani usaha pembibitan ikan, sehingga melalui kerjasama ini kontinyuitas benih untuk pembudidaya pembesaran ikan dapat terus ada. Kurangnya modal usaha dapat ditanggulangi dengan pembuatan proposal usaha kegiatan budidaya yang akan dibantu oleh penyuluh perikanan dan akan diajukan ke UPT terdekat dalam hal ini adalah Balai Budidaya Air Tawar (BBAT) Tatelu yang mana sudah dijelaskan tadi bahwa UPT ini berfungsi sebagai penghasil induk dan benih ikan air tawar di Indonesia Timur. Terkait pemasaran hasil, disarankan dalam pembesaran ikan, penebaran benih sebaiknya bertahap dalam hal waktu dan ukuran, sehingga tidak akan ada panen sekaligus/ total yang akan menurunkan harga ikan secara drastis. Hal ini juga menjamin kontinyutas ikan selalu ada bila dibutuhkan. Benih yang baik dan yang sudah afkir (tidak bagus) dapat dibedakan dengan memegang sisik benih tersebut, apabila keras dan kasar, kemungkinan benih tersebut tidak bagus atau benih yang sudah tua (afkir). Untuk lebih jelasnya, Penyuluh perikanan telah membagikan SNI Ikan Nila Hitam (Nila Gift) kepada seluruh peserta. SNI ini akan membantu pembudidaya untuk mengetahu syarat-syarat benih ikan nila yang baik untuk usaha pembesaran. Untuk penanggulangan ikan nila yang terserang penyakit dapat dilakukan dengan perendaman dengan larutan garam (NaCl) dan segera pisahkan ikan sakit dengan ikan yang sehat. Upaya pencegahan dilakukan dengan menjaga kebersihan kolam serta lingkungan sekitar kolam dan pemberian vitamin C melalui pakan ikan (pellet) untuk meningkatkan imunitas tubuh ikan.

Ucapan terimakasih disampaikan oleh pengelola P2MKP Bapak Marthen Lengkong Tuwaidan kepada narasumber, instruktur/ fasilitator, supervisor serta penyuluh perikanan yang telah ikut serta membantu kelancaran pelaksanaan kegiatan ini. Pengelola juga menyampaikan terimakasih kepada seluruh peserta atas kerjasama dan keseriusan dalam mengikuti kegiatan P2MKP. Sebagai kenang-kenangan, pengelola P2MKP menyerahkan benih ikan nila (ukuran 5 – 8 cm), pakan pellet 5 kg, Kerangkeng/ Tagaho/ Waring, Sibu-sibu/ Serok kepada masing-masing peserta. Diharapkan kegiatan ini akan terus berlangsung guna menambah pengetahuan dan keterampilan pelaku utama dan pelaku usaha skala menengah kebawah terkait usaha budidaya ikan air tawar. (^NDK^)

Silahkan isi komentar anda di bawah ini :

komentar