BONEPOS.WATAMPONE (16/02/2013) – Budi daya ikan air tawar dengan menggunakan kolam terpal sudah memudahkan masyarakat perkotaan karena tidak membutuhkan lahan yang luas. Asal mau, pekarangan rumah pun bisa dimanfaatkan tanpa mengganggu lingkungan sekelilingnya. Artinya,lahan yang selama ini kurang bermanfaat bisa disulap menjadi penghasil rupiah.

bonepos  terpal lele

Dengan demikian, maka siapapun yang ingin mengembangkan usaha ini dapat mencobanya lantaran luas lahan dan biaya yang dibutuhkan tidak terlalu mahal.

Kolam terpal bisa menghasilkan uang pada rumah-rumah yang bertingkat tanpa mengganggu ruangan yang ada. Di samping itu, biayanya juga tergolong murah dan dapat diubah posisinya serta dapat dipindahkan sesuai keinginan pemiliknya.

Kolam terpal ini merupakan salah satu peluang yang baik bagi pengembangan budi daya ikan ikan nila (Oreochromis niloticus), ikan lele (Clarias sp). Sumber air berasal dari sumur kolam terpal memiliki tiga buah pertama untuk pemeliharaan benih nila dan lele.

Dari hasil pantauan bonepos Jumat (15/02/2013) usaha budidaya ikan di lahan kritis sudah ada diterapkan di jalan A.malla Kecamatan tanete riattang kelurahan biru.

Usaha ini dirintis sejak akhir tahun 2011 oleh Supriadi menurut dia dengan adanya pemanfaatan lahan kritis untuk budidaya ikan dapat mendorong kesejahteraan masyarakat yang sebagian mata pencahariannya berprofesi sebagai petani. Bibit ikan ini didatangkan dari maros, soppeng, dan sukabumi.

Tujuan pemanfaatan lahan kritis untuk melatih masyarakat disekitar lokasi usaha tersebut dalam mengembangkan budidaya perikanan. Selain usaha budidaya pemanfaatan dilahan kritis dia juga membuka usaha pengolahan ikan seperti bandeng asap, bandeng fresto, bandeng tanpa duri, abon bandeng, dll.

Dan sebagai pemilik dan pendiri usaha pengolahan ikan nunung indrawati S.Pd. menurut supriadi modal untuk membangun sangat kecil sekitar Rp.500 ribu yang pertama di beli kolam terpal dan selang.

Di usahanya tersebut pernah menjaling kerjasama kementerian kelautan dan perikanan ditunjuk sebagai pusat pelatihan mandiri kelautan perikanan P2MKP. Usaha ini diperkerjakan oleh tiga orang ibu rumah tangga dan dua orang anak yang putus sekolah yang berada disekitar lokasi usaha tersebut. Harapan dari Supriadi akan membentuk kelompok pembudidayaan.

Silahkan isi komentar anda di bawah ini :

komentar