Ikan bilih (Mystacoleuseus padangensis, Blkr) adalah nama ikan yang hidup di danau Singkarak, Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Ikan ini berukuran sedikit lebih besar dari ikan teri, tetapi memiliki bentuk badan yang pipih dan lonjong.
Secara sistematik, ikan bilih termasuk ke dalam klasifikasi sebagai berikut :
Kelas : Actinopterygii
Ordo : Cypriniformes
Famili : Cyprinidae
Genus : Mystacoleucus
Species : Mystacoleucus padangensis Bleeker
Synonim : Capoeta padangensis Bleeker, Puntius padangensis Bleeker, Systomus padangensis Bleeker.

Karena harga ikan bilih yang tergolong cukup mahal, mencapai 100 ribu rupiah di pasaran, ikan bilih ini mengalami tekanan penangkapan yang cukup berat. Kalau sekitar sepuluh tahun yang lalu masih mudah dijumpai ikan yang berukuran diatas 10 cm, maka sekarang umumnya dijumpai yang berukuran kecil, rata-rata 6 cm.

Produksi ikan bilih terus mengalami penurunan. Data statistik menunjukkan bahwa pada tahun 1997, produksi ikan bilih Sumatera Barat sebesar 416 ton/tahun. Pada tahun 2003, produksi menjadi berkurang hampir setengahnya, yaitu sebesar 260 ton/tahun. Dulunya ikan bilih adalah ikan endemik yang hanya ditemui di danau Singkarak. Tetapi sejak ada upaya introduksi ikan bilih ke Danau Toba pada tahun 2001, ternyata ikan ini dapat hidup dan berkembang biak disana. Setelah diteliti, ternyata habitatnya cocok dan ikannya berukuran jauh lebih besar dari ikan bilih yang ada di daerah asalnya sendiri.
Dari catatan literatur tercatat bahwa ilmuwan Amerika pernah berkunjung dan membawa benih ikan bilih ini ke negaranya untuk dikembangkan, namun hasilnya nihil. Meski menggunakan teknologi dan peralatan canggih jenis apapun ikan bilih tetap tak bisa hidup. Hal ini dikarenakan oleh adaptasi ikan yang luar biasa terhadap susunan kimia air Danau Singkarak yang unik.
Selain di Danau Singkarak, ada dua spesies ikan bilih yang lain, yakni yang berada di daerah Danau Maninjau (Sumatera Barat) dan sekitar Sungai Amazon (Brazil). Selain di danau, kadang-kadang ikan ini ditemukan juga  di sungai-sungai kecil sekitarnya yang merupakan anak sungai yang berasal dari Danau Singkarak.
Saat ini, ikan bilih sudah mulai menyusut jumlahnya akibat kurangnya perhatian dari para penduduk di sekitar danau dan pemerintah provinsi Sumatera Barat umumnya. Dan bila hal ini terus dibiarkan, dikhawatirkan dalam waktu sepuluh tahun lagi bilih akan punah. Kini, ikan bilih Singkarak bukan saja populasinya makin berkurang karena penangkapannya serampangan, tetapi ancaman juga datang dengan masuknya ikan bilih dari Medan ke pasar-pasar tradisional di pinggiran Danau Singkarak.
Nelayan di Danau Singkarak hingga saat ini masih menggunakan alat tangkap berupa jaring dengan lubang tiga perempat inci. Lubang yang sangat kecil ini cenderung membuat hasil tangkapan lebih banyak, namun menghambat pertumbuhan ikan. Selain alat tangkap, waktu penangkapan juga menjadi faktor yang menyebabkan semakin menipisnya populasi ikan ini. Nelayan cenderung menangkap ikan sekali dalam sepuluh menit. Hal ini menyebabkan ikan tidak bisa berenang menuju muara sungai tempat mereka memijah.
Agar ikan bilih Danau Singkarak tidak mengalami kepunahan, harus dibuat aturan yang jelas terkait waktu dan daerah penangkapan. Nagari-nagari di sekitar Danau Singkarak seperti Muara Sumpur, Paninggahan, Saningbakar, dan Sumani juga harus mau berkomitmen untuk menjaga peraturan yang dibuat nanti. Selain itu perlu dibuatkan kawasan konservasi di Danau Singkarak untuk menjaga kelestarian ikan bilih, sehingga anak cucu kita nanti tetap bisa menikmati kelezatan dan manfaat ekonomi dari keberadaan ikan bilih.  Semoga…
NARASUMBER :
 
Fitrina Nazar, M.Si
Sekolah Tinggi Perikanan Jakarta, KKP
 
M. Rifqi, M.Si
Ditjen Perikanan Budidaya, KKP 
Sumber Artikel : Klik Di Sini >>

Silahkan isi komentar anda di bawah ini :

komentar