Anak Nelayan Jadi Pengusaha Ikan

Sejak pertama kali ditayangkan pada tahun 1993, serial televisi “Si Doel Anak Sekolahan” langsung mendapat tempat dihati pemirsa televisi di Indonesia. Dikisahkan Si Doel adalah anak seorang tukang oplet dan hidup dalam keterbatasan. Meski demikian, Ia dapat meyelesaikan pendidikan hingga menjadi “Tukang Insinyur” yang terbilang sangat langka dikalangan Betawi pada waktu itu. Senada dengan itu, yang tebaru adalah novel best seller-nya Andrea Hirata yang terdiri dari empat buku dalam tetralogi “Laskar Pelangi”. Novel tersebut menceritakan semangat Ikal (tokoh utama) anak Belitung dalam mewujudkan mimpinya untuk kuliah di Sorbonne University, Perancis. Seperti Si Doel, Ikal juga hidup dalam keterbatasan. Ayahnya hanya seorang buruh yang bekerja di PN Timah.

Cerita Si Doel maupun Ikal telah menunjukkan bahwa keterbatasan bukan akhir segalanya. Itu juga yang dialami oleh Ahmad Sudarsono. Pria yang lahir di Pandeglang 30 tahun silam, kini mulai menikmati hasil jerih payahnya selama ini. Berangkat dari latar belakang keluarga nelayan buruh yang hidup sederhana, Ia termasuk segelintir orang yang beruntung karena dalam keterbatasan ekonomi keluarganya, Ia mampu meyelesaikan kuliah dan meraih gelar sarjana perikanan dari Institut Pertanian Bogor (IPB) tanpa banyak merepotkan orang tuanya terutama dalam hal financial. Saat ini, Ia adalah pendiri Iwakku Corporation sekaligus menjadi mitra Kementerian Kelautan dan Perikanan dengan menjadi Instruktur di bidang pengolahan hasil perikanan.

Keluarga nelayan

Di sebuah perkampungan pinggiran pantai selat sunda, saat tanggal 10 Maulud tahun 1405 H telah lahir seorang anak yang bobot badannya sampai melebihi angka normal yaitu sekitar 4,2 Kg. kelahirannya membuat warga sekampung berbondong-bondong untuk menengok seorang anak yang telah lahir dari rahim ibunya dengan banyak kelebihan. Apa yang membuat warga sekampung berbondong-bondong untuk menengok? Setelah belasan tahun lamanya, anak itu baru mengetahui alasannya karena dirinya dikandung sampai lebih dari satu tahun dan dilahirkan dengan berat badan melebihi angka normal, yaitu melebihi 4 Kg. Orang tuanya yakin, keganjalan ini akan membawa keberkahan baik untuk dirinya sendiri maupun untuk keluarganya. Untuk itu, anak tersebut dianugerahi nama oleh orang tuanya dengan nama “DARSONO” yang maknanya sampai saat ini belum diketahui oleh si anak, hanya orang tuanyalah yang mengetahui makna sebenarnya. Tapi anak itu yakin, namanya akan membawa keberkahan dan kebahagian untuk diri dan keluarganya. Sebelum lulus dari Sekolah Dasar (SD), nama Darsono dilengkapi oleh salah satu gurunya dan diamini oleh kedua orangtuanya menjadi “AHMAD SUDARSONO”. Nama yang keren bukan? Mirip kayak pak “PEJABAT”.

Ahmad dilahirkan dari keluarga nelayan di daerah ujung barat pulau jawa, tepatnya di daerah perkampungan nelayan di pinggiran pantai selat sunda. Ayahnya adalah seorang veteran perang kemerdekaan tanpa tanda jasa, pada tahun 50-an terbuang ke daerah hutan di pinggiran pantai selat sunda. Untuk menyambung hidupnya, pekerjaan sebagai penangkap ikan di laut dilakoninya. Hingga kini di usianya yang sudah masuk kepala tujuh, status sebagai penangkap ikan di laut (nelayan) masih melekat. Namanya adalah Bapak Sajum atau biasa dipanggil “DAN” karena selain jadi nelayan, Pak Sajum menjadi salah seorang Pamong Desa dengan jabatan tertinggi Komandan Pleton Pertahanan Sipil (HANSIP). Ibunya adalah seorang wanita perkasa yang bekerja sebagai penjual ikan di pasar. Sejak kecil pekerjaan menjual ikan sudah dilakoni, meskipun tidak mengenyam pendidikan di bangku sekolah tapi kalau soal hitung menghitung ibulah jagonya. Namanya Ibu Nurinten atau biasa dipanggil “NUNUNG” karena agak botak jidatnya disebabkan kerja keras yang dilakoninya sejak kecil.

Ahmad adalah anak ke-5 dari 5 bersaudara yang semuanya laki-laki sehingga orang di kampungnya sering menyebut mereka “PANDAWA LIMA” seperti layaknya dongeng di Negeri PEWAYANGAN. Dongeng ini menceritakan tentang 5 tokoh pewayangan di sebuah kerajaan ‘ASTINA” yang sangat heroik melawan kejahatan yang dilakukan oleh “KURAWA”. Uniknya dari dongeng tersebut masing-masing tokoh memiliki karakter dan senjata yang berbeda. Kelima tokoh tersebut adalah Yudistira memiliki karakter yang lembut sehingga mudah diperdaya; Bima memilii karakter yang keras dan tidak mau mengalah, senjata yang digunakan adalah Gadang Sakti yang bisa mengalahkan musuh dengan mudah; Arjuna memiliki wajah yang paling tampan dibandingkan dengan keempat saudara lainnya, senjata yang digunakan adalah Panah Panca Roba yang bisa melumpuhkan 5 orang sekaligus sekali memanah; Nakula dan Sadewa, dua saudara kembar memiliki kemiripan karakter meskipun berbeda secara pandangan atau pendapat. Karakter 5 tokoh tersebut memiliki kemiripan dengan karakter Ahmad dan 4 saudara kandung lainnya, bedanya adalah kalau kelima tokoh “PANDAWA LIMA” tinggal di istana dan berperang dengan “KURAWA” sedangkan mereka tinggal di sebuah perkampungan nelayan dengan hidup yang pas-pasan dan berperang melawan “OMBAK” untuk bertahan hidup. Dari 5 bersaudara hanya 2 orang yang lolos dari jeratan budaya turun menurun di sebuah perkampungan nelayan, yaitu menjadi nelayan seperti moyangnya. Kedua orang tersebut adalah kartono dan Ahmad (Nakula dan Sadewa) yang bisa menyelsaikan pendidikan sampai ke Perguruan Tinggi (PT). Ketiga saudara yang lain (Cakra, Rasto, dan Cahyono), ikut tenggelam dalam budaya turun menurun. Dua alasan logis yang dapat diterima oleh meraka adalah pertama “memenuhi kebutuhan keluarga” dan yang kedua adalah “sekolah hanya menghabiskan uang, lebih baik melaut mendapatkan uang”. Pantaslah kalau keluarga ahmad disebut sebagai keluarga nelayan.

Bakat Dagang dan Beasiswa Yayasan KSE

Ahmad kecil menyadari bahwa orang tuanya bukan berasal dari kalangan berada, sehingga untuk mendapatkan uang jajan Ia rela berjualan bakso dan es mambo. Ketika lulus SD, orang tuanya sempat meminta Ahmad untuk berhenti sekolah. Namun, semangat belajarnya yang tinggi mampu meluluhkan hati orang tua Ahmad, sehingga mengijinkannya tetap sekolah meskipun dengan catatan biaya sekolah tidak dibiayai oleh orang tua. Di SMP, Ia mendapat beasiswa dan membuka bimbingan belajar bagi teman-temannya di sekolah.

Setelah lulus SMP, Ahmad melanjutkan sekolah di salah satu SMA favorit di Propinsi Banten. “Saat itulah, baru pertama kali saya harus berpisah dengan orang tua (indekost) karena letak sekolah jauh dari rumah,”ujarnya. Dengan kondisi demikian, Ia harus bisa mandiri. Beruntung, orang tuanya memberi uang saku Rp30.000 untuk dua minggu. “Separuhnya habis untuk ongkos pulang-pergi dari rumah ke kost-an,” kenangnya. Kendala biaya tidak sedikitpun menyurutkan langkahnya untuk terus menimba ilmu hingga tingkat perguruan tinggi. Untuk memenuhi kebutuhan hidup selama di IPB, ia sempat menjadi pelayan warteg, berjualan pakaian dan aksesoris muslim/muslimah, membuka rental kaset dan buku, serta menjadi asisten guru di salah satu sekolah sekitar kampus dan sejak tahun 2003 sampai tahun 2006 mendapatkan beasiswa dari Yayasan KSE. Beasiswa ini sangat membantu dalam proses mengenyam pendidikan di IPB dan meringankan beban orang tua di kampung. Meski demikian, Ia termasuk orang yang gemar berorganisasi. Di kampus, ia juga pernah menjabat sebagai kadep sospol BEM FPIK IPB dan ketua umum Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM-KM) atau setingkat DPR-nya IPB.

Memilih Perikanan

Ibarat buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya, sebagai anak nelayan, Ahmad menyadari bahwa kondisi nelayan tidak jauh dari kemiskinan. Potensi sumberdaya ikan begitu melimpah tetapi berbanding terbalik dengan pendapatan nelayan. Hal ini terjadi karena banyak tengkulak yang menjerat nelayan dengan bunga tinggi dan membeli hasil tangkapan dengan harga sangat murah. Sejak itu, Ia bercita-cita menjadi pengusaha di bidang perikanan dengan teknologi tepat guna sehingga dapat membantu meningkatkan kesejahteraan nelayan.

Pada tahun 2008, dengan berbekal ilmu yang diperoleh di Jurusan Teknologi Hasil Perikanan (THP-IPB) dan sedikit modal dari hasil bekerja selama satu tahun di perusahaan swasta, Ia memberanikan diri terjun pada bisnis pengolahan ikan. Mulanya, Ahmad dibantu istri berjualan produk olahan dengan cara door to door di kantin-kantin sekolah. Namun, selama 4 bulan pertama usaha ini tidak menunjukkan hasil yang mengembirakan, modalnya habis dan mengalami kerugian yang cukup banyak.

Pantang Menyerah

Titik balik kebangkitan Ahmad, ketika melihat seorang kakek-kakek berjualan keliling dengan memanggul barang dagangannya. “Kakek itu terlihat sangat sabar dan penuh keikhlasan,” kenangnya. Kondisi itu membuatnya semangatnya kembali bangkit. “Dengan modal secukupnya dari mertua, saya kembali menekuni usahanya yang sempat gagal. Alhasil, enam bulan berikutnya usaha olahan ikan tersebut menunjukkan hasil yang memuaskan. Dari situ, Ia mendapat suntikan modal tambahan untuk meningkatkan kapasitas produksi. Setelah berjalan dua tahun, Ia telah mempunyai 20 agen dan produknya masuk ke beberapa perusahaan waralaba.

Usaha olahan ikan Iwakku Corporation. Pemasarannya pun meluas sampai pernah mencakup wilayah Jabodetabek, Jogjakarta, Banjarnegara, Wonosobo, purwokerto, magelang, lampung, dan Palembang. Menurut Ahmad, kendala utama yang paling sering dihadapi adalah ketersediaan ikan. Seringkali faktor cuaca menyebabkan nelayan enggan melaut, sehingga ketersediaan ikan menjadi berkurang. Untuk memenuhi kebutuhan pabrik, Ahmad mendatangkan ikan dari berbagai daerah seperti Banten, cilacap, dan Jakarta.

Selain mengembangkan usaha, Ahmad juga dipercaya oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk menjadi salah satu instruktur/ pelatih (P2MKP) di bidang pengolahan dan pemasaran hasil perikanan. Sampai saat ini jumlah purnawidya yang pernah dilatih mencapai 200 orang dari berbagai wilayah. Saat Kongres Forkomnas P2MKP di Jakarta tahun 2012, Ahmad dipercaya menjadi Sekretaris Jenderal (Sekjen) Forkomnas P2MKP.

Dari pengalaman Ahmad, dapat kita tarik kesimpulan bahwa keterbatasan bukan berarti kita menjadi pesimis. Keterbatasan adalah pemicu untuk merubah keadaan menjadi lebih baik. Dengan semangat, kerja keras dan tetap tawakal dapat mengantarkan seseorang pada gerbang kesuksesan. FADLY

Oleh : Ahmad Sudarsono, S.Pi

Silahkan isi komentar anda di bawah ini :

komentar